“Second Sex” (Simone De Beauvoir)

Oleh Noverius Laoli

  

“Suatu ketika aku ingin menjelaskan diriku pada diri sendiri…. Dan perkara ini menohokku dengan sebuah kejutan bahwa hal pertama yang harus aku katakan adalah “Aku seorang perempuan.’” (Simone De Beauvoir) 

Tinjauan Sejarah

Simone De Beauvoir adalah seorang sahabat dekat Sartre. Dapat dikatakan sebenarnya ia adalah kekasih Sartre. Jika kita sudah mengenal Sartre pastilah dalam riwat hidupnya kita akan menemukan Simone De Beauvoir ini. Mereka berdua adalah seorang intelektual yang sering melakukan diskusi dan perdebatan hebat. Simone adalah seorang gadis yang cukup cerdas dan kritis, meskipun demikian ia selalu kalah bila beradu argumen dengan Sartre. Gagasan-gagasan cemerlan Sartre membuatnya terpukau sekaligus kagum. Tetapi bagaimanapun kebesaran Sartre tidak telepas dari Simone ini. Justru karena Simone ini Sartre semakin giat melakukan petualangan intelektualnya agar ia dapat membagikan sesuatu yang baru kepada kekasihnya ini.

Simonde De Beauvoir adalah  seorang pemikir  feminis Perancis. Ia lahir pada 9 Januari 1908 di Perancis dan meninggal 14 april 1986 pada umur tujuh puluh delapan tahun. Pada waktu kematiannya ia diberi penghargaan sebagai seorang figur yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, dan sebagai penulis yang hebat, yang telah memenangai “the Prix Goncourt”, mendapat penghargaan sebagai penulis bergensi di Perancis, untuk novelnya yang berjudul “The Mandarins”. Sebagai seorang pemikir terpenting ia memiliki pengaruh besar dalam sejarah dunia feminis khususnya. Dalam buku ‘second sex’ ini ia berbicara siapakah perempuan itu sesungguhnya, dalam lintasan sejarah, secara biologis, tradisi, agama, negara dan bagi dirinya sendiri. Dalam buku ini kita akan bertemu dengan sejumlah fakta dan mitos yang sangat mendominasi sejarah umat manusia.

Sejak awal sejarah umat manusia perempuan diposisikan sebagai jenis kelamin kedua. Dalam kitab suci agama samawi,[1] perempuan berasal dari tulang rusuknya laki-laki (Hawa berasal dari tulang rusuk Adam). Laki-laki adalah ciptaan yang asli, sedangkan perempuan adalah pelengkap. Dalam hampir setiap budaya tertua di seluruh dunia kedudukan perempuan selalu di tempatkan di posisi kedua setelah laki-laki. Lebih sadis lagi perempuan dilihat sederajat dengan hewan, budak yang tugasnya melayani dan memuaskan kebutuhan laki-laki. Budaya ini telah berlangsung dari abad ke abad dan telah dijadikan sebagai sebuah kebenaran yang tidak perlu dipersoalkan lagi.

Menilik para tokoh besar di zamannya kita akan semakin jelas mengetahui bahwa perempuan selalu di tempatkan di posisi terendah. Aristoteles mengatakan bahwa “perempuan hanyalah benda, sedangkan gerakan, yang menjadi prinsip laki-laki adalah ‘lebih baik dan lebih hebat”.[2] Pemikir yang diagung-agungkan pada zamannya juga masih melihat perempuan sebagai manusia yang tidak lengkap sama dengan benda-benda. Kemudian di abad pertengahan Thomas Aquinas juga mengatakan hal yang sama. Perempuan adalah sebagai “laki-laki yang tidak sempurna”, makhluk “yang dicipta secara tidak sengaja”.[3] Bagi mereka hanya laki-lakilah yang sempurna, dan perempuan tidak lebih dari sekedar pelengkap yang tidak diharapkan kehadirannya. Bagi mereka takdir perempuan memang begitu dan tidak bisa diubah lagi.Tentu saja ini suatu ketidakadilan besar bagi kaum perempuan.

Secara bilogis perempuan mengalami banyak kelemahan dan kesulitan secara fisik dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan secara fisik lemah, mengalami penyakit bulanan (menstruasi), melahirkan, mudah terserang penyakit dan cepat lelah. Ini adalah kendala-kendala biologis. Dalam hal ini secara biologis laki-laki tetap memiliki keunggulan dibanding perempuan. Perempuan rentan terhadap bahaya, secara khusus dalam masa-masa menstruasi dan kehamilan. Pada masa menstruasi perempuan mengalami siklus ini dengan gejolak yang tidak teratur. Perempuan mudah mengalami diare, cepat marah, tekanan darah rendah, dan emosi tidak stabil. Pada waktu melahirkan perempuan harus mempertaruhkan nyawanya. Maka melahirkan bukanlah hal yang menyenangkan  tetapi suatu pertarungan antara hidup dan mati bagi  perempuan. Sementara seksualitas laki-laki datar-datar saja. Mereka tidak mengalami gangguan yang sulit. 

Meskipun secara bilogis perempuan lebih lemah daripada laki-laki tetapi itu bukanlah alasan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Banyak peristiwa yang kita lihat di abad ini yang tidak lagi mengunggulkan kekuatan fisik atau otot. Kaum perempuan secara intelektual setara dengan kaum laki-laki malahan mereka menjadi saingan baru bagi kaum laki-laki. Meskipun secara faktual masih sering kita melihat di hampir semua tampuk kekuasaan dominasi laki-laki masih besar. Laki-laki masih menggunakan senjata lama untuk menekan kaum perempuan. Nilai-nilai, tradisi, agama yang semuanya mengamini bahwa perempuan harus tunduk pada laki-laki. Perempuan yang baik adalah mereka yang tunduk kepada kepemimpinan suami mereka.  

Sejarah telah memperlakukan perempuan sebagai “sosok yang lain”. Perempuan adalah sesuatu yang asing bagi laki-laki. Karena asing maka mereka memperlakukan perempuan sebagai yang asing juga. Bukan bagian dari dunia mereka. Hal ini menjadi paradoks besar dalam sejarah. Perempuan dijadikan sesuatu yang tidak memiliki peranan penting dalam hidup manusia. Padahal pada zaman lampau perempuan memiliki peranan besar dalam kelangsungan hidup manusia. Ketika hamil dan melahirkan mereka lebih banyak tinggal di rumah, dan di sana kaum perempuan memunculkan pekerjaan-pekerjaan baru. Melalui membuat barang-barang ini  seperti menenun, berkebun perempuan memainkan peranan penting dalam kehidupan ekonomi.  

Pemikiran

Sejarah telah berlaku tidak adil bagi kaum perempuan. Secara khusus laki-laki telah memperdayakan dan memanfaatkan kelemahan perempuan untuk menguasai mereka. Perempuan dijadikan benda yang mereka atur sesuka hati. “ketidak berdayaan perempuan menyebabkan kehancurannya karena laki-laki memandang perempuan dalam perspektif rencananya bagi kesuburan dan ekspansi”.[4]

Kesuburan perempuan dalam meneruskan ketuburanan bagi laki-laki merupakan senjata utama bagi laki-laki untuk menjadikannya sebagai alat.  Perempuan dijadikan sebagai pemuas seks semata bagi kaum laki-laki. Fungsi perempuan hanya melayani kebutuhan laki-laki. Maka kesuksesan seseorang itu pada zaman dulu dilihat seberapa banyak istrinya. Para raja juga memiliki banyak istri untuk memenuhi kepuasan birahi mereka dan karena itu perempuan tetap dianggap sebagai alat bagi laki-laki. Perempuan menjadi sekedar fungsi bagi laki-laki. Dalam hal mereka lupan bahwa laki-laki tidak dapat hidup tanpa perempuan.  

Meskipun pihak laki-laki memberikan kemerdekaan kepada perempuan, tetapi kemerdekaan yang diberikan hanyalah kemerdekaan yang negatif. Memberi kebebasan  sekaligus menghalangi. Kebebasan yang diberikan tidak seperti kebebasan yang diberikan kepada kaum laki-laki. Kebebesan itu kebebasan semu karena toh pada dasarnya laki-laki selalu menghambat kaum perempuan untuk bertindak aktif seperti laki-laki. Bahkan dalam budaya-budaya primitif masih saja kita temukan perempuan dilihat lemah dan tidak dapat melaksanakan tugas-tugas laki-laki. Bahkan sering sekali ketidakadilan ditimpakan atas mereka. Contoh yang paling konkret jika perempuan berbuat zinah laki-laki berhak menuntut perceraian atau bahkan menghukumnya jauh lebih keras daripada laki-laki yang melakukan zinah terhadapnya.

Perempuan yang melakukan zinah itu aib dan pantas dirajam tetapi kalau laki-laki dianggap agak sedikit nakal atau tidak taat aturan tetapi tidak dihukum seperti mereka menghukum si perempuan. Perempuan memiliki peran yang sangat menentukan dalam diri laki-laki. Jika tidak ada peremuan laki-laki tidaklah merasa dirinya sempurna. Laki-laki tidak dapat mengurus dirinya sendiri dan keluarganya sebaik yang dilakukan perempuan.

Meskipun hal-hal seperti ini sering sekali tidak pernah dibicarakan. Dalam mengatur rumah tangga, mendidik anak, mengatur ekonomi keluarga dsb perempuanlah yang melakukan itu. Sementara laki-laki berjuang mencari nafkah dan tak mau ambil pusing untuk semua pengaturan kebutuhan rumah tangga karena ada istrinya. Dalam upaya menemukan perempuan, kita khususnya tidak menolak adanya kontribusi-kontribusi tentang diri biologi, psikoanalisis dan materialisme sejarah; namun, kita seharusnya tetap berpendapat bahwa tubuh, kehidupan seksual, dan sumber daya teknologi eksis secara konkret bagi laki-laki hanya sejauh ia memahaminya  dalam perspektif total keberadaannya.[5] 

Akhirnya Simone De Beauvoir mengkritik dengan keras kesewenang-wenangan laki-laki atas perempuan. Dengan mengangung-agungkan tradisi, agama, adat istiadat mereka mengkaim memiliki hak otoritas atas perempuan. Mereka berhak mendominasi dan mengatur hidupnya. Dan segala hukum dan aturan-aturan di atas yang membuatnya adalah laki-laki bukan perempuan. Perempuan dilihat dalam perspektif laki-laki yang jauh berbeda dalam pandangan perempuan sendiri. Maka dalam buku ini Simone menguak-kan bagaimana perempuan berbicara dan melihat dirinya. Apa perkataan perempuan sendiri mengenai feminisme. Peremuan harus berdiri sama derajatnya dengan laki-laki. Sehingga tidak diskriminasi jenis kelamin yang mengorbankan perempuan.     


[1] Agama samawi adalah agama Yahudi, Kristen dan Islam.

[2] Simone De Bouvoir, Second Sex, (Surabaya, Pustaka Promothea, 2003), hlm. 116

[3] ibid., hlm. ix

[4] ibid.,  hlm. 81

[5] Ibid., hlm 85

~ oleh noveonline pada Januari 29, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: