Memahami Allah dengan Intuisi

Oleh: Noverius Laoli

 Pengantar

            Perkembangan sains membawa dampak yang signifikan dalam hal kepercayaan (iman). Tendensi untuk membuktikan segala sesuatu dengan fakta-fakta dan eksperimen semakin penting. Allah-pun dicoba dimengerti demikian. Kegagalan usaha manusia untuk membuktikan Allah dengan rasio, melemahkan kepercayaan kepada Tuhan. Kemajuan teknologi yang membawa dunia pada peperangan dan menyisahkan penderitaan, menjadi faktor utama kekecewaan manusia terhadap Allah. Kalau Allah ada mengapa Ia mengijinkan adanya penderitaan?

Secara rasional Allah sulit dibuktikan. Maka lahirlah orang-orang yang menjadi Atheis. Mereka menuntut Allah yang hadir dan menyelesaikan masalah-masalah dunia yang sudah karut-marut ini. Harapan itu tidak terpenuhi. Allah toh tak pernah ada, karena tidak pernah ada bukti bahwa Allah ada. Allah tidak bisa diverifikasi eksistensiNya. Akibatnya eksistensi Allah-pun diragukan. Melihat situasi ini, saya memberi alternatif lain untuk memahami Allah yaitu lewat pengetahuan intuitif.

 Pengetahuan Intuitif

            Kata intuisi berasal dari bahasa latin intuire – intuitus (memandang), dari in (pada) dan tueri (melihat, menonton)[2]. Ini berarti memandang atau melihat ke dalam. Pengetahuan intuitif adalah pemahaman atau penangkapan (aprehensi) secara langsung tentang sesuatu. Intuisi sering dipahami sebagai insight yang ada secara alamiah.

            Menurut Aristoteles, intuisi  adalah “as the mental acts by which, the premises of all knowledge are revealed.”[3] Pengetahuan intuititif itu merupakan dasar (premis) dari semua pengetahuan indrawi. Dapat dikatakan bahwa dengan mendasarkan diri pada intuisi, manusia dapat mengetahui semua yang ada secara indrawi tanpa mengalami (experience) secara langsung atau dipikirkan secara nalar (reason). Pengetahuan intuitif tidak berarti menyangkal nalar atau pengalaman langsung, tetapi sering sekali pengetahuan lewat nalar dan pengalaman itu tidak valid. Nalar sering dipengaruhi oleh persepsi-persepsi yang ada dalam pikiran kita. [4]  

 Antara Intuisi dan Intelek

Salah satu tokoh yang berbicara tentang intuisi adalah Henri Bergson,[5] Melalui buku Creative Evolution-nya, ia percaya  bahwa manusia memiliki naluri untuk bertahan hidup. Karakter semacam ini merupakan suatu hal yang alami dalam menjalankan proses hidup. Maka Bergson menegaskan

“But it is to the very inwardness of life that intuition leads us – by intuion I mean instinct that has become disinterested,  self-conscious, capable of refleting  upon its object and of  enlarging it  indefenitely.”[6]

Bagi Bergson intuisi itu mampu menghantar manusia memasuki kedalaman batin hidupnya. Intuisi yang dimengertinya sebagai insting ini tidak mengkategorisasi kenyataan.

Bergson sangat dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin. Menurutnya tindakan manusia ditentukan oleh lingkungan sekitarnya. Manusia memiliki naluri-naluri[7] yang memiliki dorongan kuat untuk menentukan tindakan-tindakan. Karakter semacam ini merupakan sesuatu yang alami dalam hidup. Naluri-naluri itulah yang memampukan manusia memiliki kekuatan untuk bertahan hidup. Maka intelek itu hanya sebagai instrumen yang digunakan untuk membantu meningkatkan kehidupan.

Intuisi itu jangan disamakan dengan perasaan dan emosi secara harafiah. Intuisi itu memiliki kemampuan khusus yang didapat dari ilmu non-alam. Intuisi itu hanya bisa didapat dengan melepaskan diri dari tuntutan-tuntutan tindakan, yaitu dengan membenamkan diri dalam kesadaran spontan. Kenyataan yang absolut yang dikuak oleh intuisi metafisis adalah waktu yang tidak pernah habis. Realitas itu selalu berubah karena dalam hidup manusia akan selalu ada kebebasan akan kreativitas. Dan realitas yang berubah itu hanya dapat dialami secara intuitif dan tidak terpotong-potong.

Menurut Bergson dalam evolusi terkandung proses Elan Vital atau daya hidup. Elan Vital tersebutlah yang mendorong proses evolusi menuju keteraturan, Elan Vital yang menjadi penyebab mendasar terciptanya species-species yang bervariasi dan juga merupakan prinsip pokok eksistensi. Variasi spesies ada, karena ada ledakan-ledakan daya hidup. Karena proses evolusi itu sendiri tidak pernah linier. Maka pada saat itu ada tiga jenis utama garis evolusi yang memungkinkan, yaitu tumbuhan, serangga, dan manusia. Manusia merupakan produk evolusi terbaik dan terkuat karena ia memiliki vitalisme.[8]

Proses evolusi merupakan proses dinamis. Maka bisa dikatakan bahwa konsep intelek tidaklah cukup untuk mengatasi proses ini. Intelek yang berada dalam waktu terukur, bersifat statis, atau berada dalam ruang lingkup matematis. Dengan intuisi, elan vital akan terjadi karena dengan begitu, dinamisme akan berjalan dan juga proses terus menerus seperti air mengalir menuju ke daerah yang rendah akan terjadi. Dengan Elan Vital manusia akan berada pada proses menjadi (becoming). Kedinamisan dari waktu murni menjadikan evolusi terus berjalan akhirnya sampai pada tahap seperti sekarang ini.  

Keunggulan Intuisi

Intuisi[9] itu disebut sebagai sifat alamiah setiap makhluk termasuk manusia. Intuisi memiliki dorongan yang kuat yang mampu mengatasi peran nalar. Pascal seorang filsuf kristen mengatakan “The heart has its reasons of which reason knows nothing: we know this in countless ways”[10] Itu berarti hati memiliki peran dalam menentukan tindakan.

Pemikiran yang menggunakan nalar menjelaskan segala hal dengan definisi dan prinsip (all things to be explained by definitions and principles)[11]. Sedangkan pemikiran yang menggunakan intuisi yang dalam bahasa perancis disebut “esprit de finesse” (pemikiran intuitif), lebih berhubungan dengan instinc,  sebagai pengetahuan pikiran.  

Finesse, which is associated here with judgment, is clearly perceived to be more effective than pure reason in the realm of persuasion. In this case, ‘sentiment’ (which is a notoriously complex term is the pensées) can most usefully be linked to intuition, althought it is worth bearing in mind that in the course of the pensées it is variously evoked as an operation that involves the reception of sensual, intellectual and even divine impressons, while at the same time forming opinions about them.[12] 

Intuisi lebih mudah diterima dan lebih efektif kegunaannya dari pada nalar. Insting lebih tepat jika dihubungkan dengan intuisi, meskipun intuisi itu berupa pemikiran juga yang tentu saja berupa Pensées (pikiran-pikiran). Intuisi ini mencakup kemampuan afektif, intelektual dan bahkan divine impression (kesan-kesan ilahi). Pascal percaya bahwa lewat intuisi kita bisa memiliki pengalaman akan Allah.            

Keunggulan intuisi adalah intuisi tidak sepenuhnya terpaku pada kenyataan faktual, tetapi lebih pada logika hati. Nalar yang memberi pendasaran pada bukti atau kenyataan sering ditipu oleh kenyataan yang selalu berubah. Alam tidak konsiten, dan selalu mengalami perubahan. Nalar gagal memahami proses perubahan kenyataan, sebagaimana dikatakan juga oleh Bergson. 

 Melalui logika hati, kita mampu mengetahui kebenaran. “we know the truth not only through our reason but also through our heart”.[13] Pengetahuan akan aspek ruang, waktu, perubahan (movement), jumlah (number), dan juga apa yang kita sebut sebagai prinsip pertama. Pengetahuan akan hal ini lebih mudah dipahami secara intuitif daripada dijelaskan dengan panjang lebar melalui hukum logika formal atau silogisme. Pascal menyindir nalar yang terlalu rakus dan mengklaim diri mampu menjelaskan segala sesuatu.           

Intuisi (logika hati) yang menjadi prinsip utama sebagai kunci (receptacle) untuk menjelaskan iman. Meskipun demikian Pascal tidak sepenuhnya menyangkal nalar. Pascal mengakui bahwa nalar dapat memainkan peran penting sebagai alat yang membantu kita beriman: 

That is why those to whom God has given religious faith through the intuition of their heart are truly happy and legitimately persuaded. But to those who do not have it we can only give such faith through reasoning, until God gives it through the intuition of their heart, without which faith is only human and useless for salvation.[14] 

Iman itu berupa pemberian dari Allah melalui intuisi dalam hati manusia. Peristiwa ini sungguh-sungguh sebagai ekspresi kegembiraan. Bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan intuisi itu, kita hanya dapat menjelaskan iman melalui nalar. Kelak Tuhan sendiri yang memberikannya melalui intuisi di dalam hati mereka.

Intelek hanyalah sarana yang membantu untuk dapat memahami Allah sedangkan intuisi adalah pengetahuan yang berupa ilham langsung dari Allah. Pengetahuan intuisi itu adalah pemberian yang datang dari Allah. Intuisi itu berasal dari tempat yang tidak mengenal ruang dan waktu.

Memahami Allah Dengan Intuisi

Paham Allah berasal dari filsafat rasional, tetapi abstrak. Bukan hanya dalam arti “kabur” atau “umum”, tetapi terutama karena berat sebelah.[15] Allah hanya dipahami dari segi rasio saja. Allah dilihat dalam konteks “masuk akal atau tidak”, atau dapat dijelaskan secara ilmiah dan dibuktikan secara empiris.

            Misteri Allah tidak hanya berarti ketersembunyian Allah, tetapi juga sumber kekayaan hidup. Dalam Allah orang menemukan sumber inspirasi untuk penghayatan hidup yang mendalam.[16] Inspirasi itu hanya dapat diketahui lewat pengalaman. Tetapi  bukanlah pengalaman seperti yang dipahami kaum empirisme yang lengkap dengan data dan bukti yang real. Allah yang dikenal dan dialami adalah Allah yang berada di luar pemahaman pikiran manusia.

Allah yang transenden hanya dapat dialami ketika manusia keluar dari dunianya. Untuk itu perlu ekstase: keluar dari diri sendiri untuk mengalami kebesaran Allah.[17] Manusia harus mengatasi dunianya yang terbatas untuk memasuki dunia Allah yang transenden dan infinit. Dalam hal ini, Allah dimengerti bukanlah melalui intelektual, melainkan melalui intuisi.

            Allah terlalu besar untuk dipahami dan dimengerti dengan nalar. Oleh karena itu tepat apa yang dikatakan oleh Goenawan Mohamad tentang Tuhan bahwa: 

Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan-ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.[18]  

Bagi Goenawan, Tuhan adalah Tuhan yang belum sepenuhnya kita ketahui. Konsep tentang Tuhan itu tidak cukup untuk memastikan eksistensi Tuhan. Maka dikatakan Tuhan adalah Tuhan yang akan datang. Berarti yang belum sepenuhnya dipahami, dimengerti, dialami. Orang yang menjadi atheis adalah mereka yang memaksakan Tuhan sepenuhnya masuk dalam pikiran intelektual mereka yang sempit itu.  

Pada abad ke empat, Agustinus telah mencoba memahami Allah. Ia berpedoman pada kutipan mazmur: “Maka apakah Allahku itu? Apa, tanyaku, kalau bukan Tuhan Allah? Siapakah Allah selain dari Tuhan? Dan siapakah Allah, selain dari Allah kita”?[19] Ketika merenungkan mazmur ini Agustinus berkata:  

Oh, Kau yang sangat besar, sangat baik, sangat kuasa, mahakuasa, sangat penyayang dan adil, sangat tersembunyi dan sangat hadir, sangat indah dan sangat kuat; Kau yang mantap tapi tak terjangkau, yang tak berubah tapi merubah segalanya, tak pernah baru, tak pernah tua, tapi memperbaharui segalanya dan menjadikan tua orang-orang congkak tanpa mereka ketahui….[20] 

Allah yang hadir sekaligus tersebunyi. Ungkapan ini menyiratkan bahwa Allah adalah Allah yang paradoks. Allah adalah Allah yang tak terjangkau oleh pikiran dan Akal budi. Pengalaman akan Allah hanya dapat dialami dalam pengalaman intuitif. Allah hanya dapat dialami dalam iman. Inti iman berasal dari intuisi, ilham dan wahyu; semua itu kemudian dituliskan jadi ayat-ayat yang melantunkan kekuatan  yang bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.[21]

            Ciri khas pengalaman religius selalu menyimpan misteri. Misteri inilah yang menunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah transenden sekaligus imanen. Maka tidak salah kalau Kierkegaard mengatakan bahwa kehidupan religus sebagai “paradoks besar.”[22] Allah itu melampauhi seluruh pemahaman manusia. Maka Paul Tillich pernah mengatakan bahwa Tuhan “tidak eksist”-sebab Ia melampaui “esensi serta eksistensi.”[23] Paul Tillich tidak bermaksud menyangkal eksistensi Allah, tetapi baginya Allah itu melebihi segala konsep yang kita miliki. Allah tidak dapat ‘dipenjara’ dalam konsep. Allah mengatasi segalanya.  

Allah bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita. Tuhan benar-benar tak harus ada (n’a justement pas á être). Ia mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada.[24] Meister Eckhart, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, berdoa dengan menyebut Gottes (tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). Yang pertama kurang-lebih sama dengan “pengertian” tentang Tuhan, sebuah konsep. Yang kedua: Ia yang tak terjangkau oleh konsep.[25] Allah  mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada. Bagi Marion, Tuhanlah yang datang dengan kemerdekaannya ke kita karena Kasih-Nya yang berlimpah, sebagai karunia dalam wahyu.[26]         

   Allah sendiri yang memberi rahmat kepada manusia untuk mengetahuinya melalui intuisi di dalam hatinya. Intuisi itu berupa pemberian (given). Allah bukanlah hasil ramalan dari pembuktian-pembuktian, tetapi melalui kedalaman hati dan batin. Untuk membuktikan Allah kita membutuhkan intuisi. To prophesy is to speak of God, not by outward proofs, but from an inward immediate feeling.”[27] Kata inward adalah kedalaman batin, yang merupakan wilayah intuisi. Allah hadir di dalam kedalaman batin manusia atas kemauan-Nya sendiri.            

Hati kita akan selalu mengarahkan kita pada cinta kasih dan hal-hal yang spiritual, sebagaimana dikatakan oleh Pascal:

 “Heart can be turned upwards, to charity and things of the spirit, or downwards, to concupiscence and things of the flesh, and according to its disposition will affect, one might almost say ground, the operations of mind, itself corrupt by nature but capable of being turned to right use if moved by grace.”[28] 

Hati mondorong kita untuk membuka diri terhadap kasih. Secara spesifik Pascal menghantar kita pada Kristus sebagai figur kasih. Melihat Kristus berarti melihat Allah. Kristus adalah realitas konkret Allah. Melalui heart (hati) dan charity (kasih), kita kembali pada hal-hal yang benar.

            Akhirnya memahami Allah dengan intuisi menuntut kesediaan untuk membuka diri bagi pengalaman yang transenden. Intuisi memampukan kita memandang Allah dalam hati kita yang cenderung selalu mengarah kepada-Nya. Intuisi mempersiapkan hati untuk memandang kepada Allah dalam iman, sebagaimana dikatakan oleh Agustinus, “hatiku[29] selalu gelisah sebelum beristirahat dalam Dikau.” Memahami Allah dalam konteks ini bukanlah menjelaskan-Nya.

Masalah ini adalah masalah keyakinan dan iman. Iman kepada Allah yang infinit (tak terbatas). Maka eksistensi Tuhan dan tujuan akhir kita untuk memahaminya melebihi bukti-bukti yang ada ‘the existence of God, and our own ultimate destination, is beyong proof’[30].

 Penutup

Intuisi membuka kesempatan bagi kita untuk membiarkan Allah datang sendiri dengan kasihnya menyapa kita melalui intuisi masuk dalam hati, sebab hanya hati yang dapat menerima Allah dan bukan nalar. “It is heart which perceives God and not the reason. That is what fait is: God perceived by the heart, not by the reason.”[31] Di dalam hati kita dapat merasakan kehadiran Tuhan. Beriman berarti menerima Allah dengan hati, bukan dengan nalar. Penting menyadari bahwa Tuhan hadir di luar pengetahuan dan pemikiran diskursif.

  Sumber Utama

Agustinus.1997. Pengakuan-Pengakuan. Yogyakarta: Kanisius

Bergson, Henri.1998. Creative Evolution. New York: MineolaCalne, Donald B. 2004. Batas Nalar. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Hammond, Nicholas. 2003. The Cambride Companion to Pascal. New York: Cambridge University Press

Jacobs SJ, Tom. 2002. Paham Allah.Yogyakarta: Kanisius

Krailsheimer, Alban.1980. Pascal. London: Oxford University Press,

Pascal, Blaise 1966. Pensées. London: Penguin Group

 Sumber PendukungBagus, Lorens. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka UtamaCayne,Bernard S.1975.  Enclyclopedia Americana., U.S.A: Americana CorporationKompas, sabtu  06 Oktober 2007Kitab Sucihttp://ignazo.blogspot.com/2007/04/henri-bergson-antara-intelek-dan.html


[1] Makala ini dipresentasikan di Biara Pratista Kumara Warabrata Sultan Agung no 2 Bandung.

[2] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm. 363

[3] Bernard S. Cayne, Enclyclopedia Americana, (U.S.A: Americana Corporation, 1975)

[4] Pengetahuan empiris yang mengandalkan pengalaman, juga hanya sebatas melihat dari sisi subjektivitas saja. Kita tidak mampu melihat secara keseluruhan. Pengetahuan ini terbatas karena segala sesuatu ditentukan dari sisi dia memandang dan sejauh ia memahaminya.

[5] http://ignazo.blogspot.com/2007/04/henri-bergson-antara-intelek-dan.html

[6] Henri Bergson, Creative Evolution, (New York: Mineola,1998), hlm. 177

[7] Naluri adalah sifat dasar manusia. Naluri ini berada dalam wilayah intuisi karena ia datang secara spontan, kadang-kadang tidak pernah disadari tetapi sangat besar pengaruhnya dalam menentukan tindakan kita.

[8] Vitalisme adalah daya/tenaga hidup. Arti lainnya adalah kemampuan untuk bertahan hidup. Dan di sini naluri memainkan perannya yang utama yaitu mempertahankan hidup.

[9] Dalam Kamus bahasa Inggris – Indonesia, bahasa inggrisnya intuisi adalah  intuision yang artinya gerak hati.

[10] Blaise Pascal, Pensées, (London: Penguin Group, 1966), hlm. 127

[11] Nicholas Hammond (editor), The Cambride Companion to PASCAL, (New York: Cambridge University Press, 2003),  , hlm. 246

[12] Ibid., hlm. 246-247

[13] Ibid.,

[14] Ibid.,

[15] Tom Jacobs SJ, Paham Allah, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 68

[16] Ibid., hlm. 69

[17] Ibid., hlm. 70

[18] Kompas, sabtu  06 Oktober 2007

[19] Mazmur 18:32

[20] Agustinus, Pengakuan-Pengakuan, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 31

[21] Donald B. Calne, Batas Nalar,(Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2004), Op. Cit., hlm. 204

[22] Ibid.,  hlm. 109

[23] Perkataan Paul Tillich ini dikutip dari artikel Goenawan Mohamad yang diterbitkan oleh Kompas Op. Cit.,

[24] Kompas, Ibid.,

[25] Ibid.,

[26] Ibid.,

[27] Pascal, Op.Cit., hlm. 101

[28] Alban Krailsheimer, Pascal, (London: Oxford University Press, 1980), hlm. 49

[29]Hati adalah sarana manusia untuk memasuki pengalaman ilahi. Hati selalu lebih kuat daripada rasio. Meskipun secara rasio apa yang kita lakukan tidak bisa diterima, tetapi kita tidak dapat menyangkal dorongan yang kuat dalam hati kita untuk melakukannya.

[30] Op. Cit., hlm. 48

[31] Pascal. Op.Cit., hlm. 127

~ oleh noveonline pada Desember 1, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: