Film: La Belle Noiseuse

Oleh : Noverius Laoli 

Dari film ini, melukis adalah membahasakan yang tak terbahasakan, mengungkapkan yang tak terungkapkan, memperlihatkan yang tak terlihat, yang tak terukur (rumit, ambigu). Melukis juga merupakan ungkapan terdalam seseorang untuk mengekspresikan pergulatan dan hasil sensibilitas dan tangkapan – refleksi – kontemplasinya dari suatu objek, dan untuk mengungkapkan : bagaimana, siapa – apa, untuk apa, sedang apa objek lukisan itu dan ada apa di balik objek itu (Baca: kedalaman/intensifikasi). Pelukis, ingin melukiskan yang tak terlukiskan dan ingin melukiskan totalitas kehidupan Si Marianne (Emmanuelle Beart), bukan hanya soal luaran (surface) saja. Michel Piccoli (Frenhofer) sebagai pelukis, ingin melukiskan dan menunjukkan significant form (bentuk yang berarti) dari sebuah lukisan dengan cara mencari model natural-ekspresif (sifat ekspresi yang alami) dari objek lukisan sesuai dengan persepsinya. Dan karena lukisan merupakan hasil sensibilitas-refleksi-kontemplasi dan imajinasi terdalam dari seorang pelukis, dari sana tersirat makna sakralisasi dan spiritual dari sebuah lukisan. 

Film ini memberikan insight baru bahwa dalam melukis harus ada keselaran antara pelukis dengan objek lukisan. Ketika Michel Piccoli ingin melukis tubuh dan pribadi Marianne (Emmanuella Beart), sesuai dengan kehendaknya, sulit sekali bagi Piccoli untuk melukiskan yang ada di balik kefisikan tubuh Marianne – susah untuk menafsirkan pribadi Marianne. Tetapi ketika Marianne dengan rileks melakukan dan menciptakan model sesuai dengan perasaannya, pengalamannya, kebebasannya, Piccoli dapat menangkap dengan cepat sensibilitas terdalam dari Marianne sebagai objek lukisan.

Persepsi kebenaran dalam melukiskan yang tak terlukiskan bukanlah perkara yang gampang diterima oleh logika konseptual, karena sebenarnya tafsiran seorang seniman bukanlah tafsiran terbaik melainkan tafsiran fusion of horizon (tafsiran terhadap keterkaitan karya dan pekarya, antara objek dan pekarya atau pelukis), disini terlihat bahwa kebenaran ‘eksistensial’ yang diungkapkan oleh pelukis dan lukisan hanya dapat diterima oleh logika perasaan dan imajinasi.

Hal itu juga dapat kita baca dari perkataan istri Michel Piccoli, bahwa totalitas kehidupan seseorang tidak bisa dilukiskan seluruhnya hanya di atas kanvas. Jadi, tafsiran seni sangat ambiguitas dan kompleks. Dan karenanya, kebenaran yang terungkap dalam melukis adalah sangat eksistensial/kebenaran subjek atas realitas.

Sebagai seorang pelukis, Michel Piccoli (Frenhofer ) mengalami pergulatan batin. Dan itulah yang mendorong dia untuk terlibat dalam dunia melukis, dia melukis sesuai dengan kesadarannya (aisthanomai-nya) dan persepsinya (aisthetikos-nya) bukan soal keindahan. Konsekuensinya adalah Piccoli selama beberapa tahun dia tak pernah tidur bareng semalaman dengan istrinya, dia menjauh dari kehidupan keluarga. Dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri demi merefleksikan sensibilitas – naturalistic dari Marianne (Emmanuella Beart) sebagai objek lukisannya.    

~ oleh noveonline pada Desember 1, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: