B A R A K A

Oleh: Noverius Laoli

Persolan mendasar dari komoderenan yang sebenarnya adalah “Kesenjangan Sosial dan Kemiskinan Moral”.

Dalam film yang berjudul “Baraka” (berkat), tampak sekali perbedaan yang begitu signifikan, antara kelompok masyarakat, bangsa, maupun individu. Film ini pada awalnya mengambarkan situasi bumi ini sebelum dilanda kemodernan. Keindahan alam yang begitu memikat. Mulai dari air terjun yang mengalir dengan derasnya, airnya yang jernih dan situasi di sekitarnya yang tampak sejuk, hijau, dan sejumlah mahluk hidup yang mengagumi keindahannya. Gunung yang menjulang tinggi dan dataran luas yang tampak asri dan menjanjikan kehidupan yang baik. proses-proses alam berjalan dengan semestinya tanpa ganguan sedikitpun. Gunung merapi asyik bermain dengan dirinya sendiri, memuntahkan lahar panasnya.  Awan yang mendung, dihembus oleh angin dan menurunkan hujan. Sudah pasti bahwa waktu itu lapisan ozon masih tebal.

Di gambarkan juga mahluk hidup yang hidup di dalamnya. Mulai dari manusia yang tampak asyik bermain dengan sesamanya. Hidup manusia waktu itu tidak dipenuhi dengan kesibukan. Mereka hanya bekerja secukupnya, setelah itu mereka menghabiskan waktu luangnya untuk menghias diri, menciptakan tarian suku, dan berbagai aktivitas lain yang melibatkan kelompok besar, itu menandakan bahwa mereka begitu peduli satu sama lain dan saling membutuhkan. Mungkin sekali di sinilah kebudayaan itu terbentuk dan berkembang. Kehidupan yang tercermin saat itu begitu harmonis. Mereka tidak mempunyai masalah dengan alam. Malahan mereka bersatu dengan alam. Seluruh hidup mereka, bergantung padanya. Mereka melindungi alam sehingga mereka pun jauh dari bahaya-bahaya yang disebabkan oleh gejala alam.

Alam berjalan sesuai dengan hukumnya, manusia hidup  mengikuti arus alam, demikian juga mahluk hidup lainnya. Semua berjalan dengan  damai, tidak saling menghancurkan. Tidak ada sifat serakah dan menumpuk harta kekayaan. Tidak terlihat juga kesenjangan hidup di antara masyarakat. Semuanya terasa begitu indah.

Perubahan drastis terjadi ketika kemodernan muncul. Manusia diubah dari manusia yang hidupnya sehari-hari selalu berhubungan dengan alam, tiba-tiba menjadi manusia pekerja. Mereka mulai mengolah segala sesuatu dengan menggunakan mesin, meskipun belum secanggih sekarang. Manusia sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak ada waktu untuk bermain dengan yang lain. Sepanjang hari manusia hanya berhadapan dengan pekerjaanya sendiri. Waktu untuk berelasi satu sama lain tidak ada lagi.

Persaingan antara individu adalah jawaban mendasar atas kemodernan. Siap tidak siap manusia harus bersaing dengan manusia lainnya agar tetap survival. Perkembangan ilmu dan teknologi yang begitu cepat memacu manusia untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Seolah-olah kemodernan adalah tonggak utama yang menentukan arah hidupnya manusia.

Manusia terpontang-panting mengejar perkembangan teknologi yang tampak lari seperti kilat. Semuanya begitu fantastis. Dimana manusia tidak pernah membayangkan itu sebelumnya. Dalam sekejab mata dunia ini telah berubah, menjadi dunia indusrtri, manusia menonjolkan rasio semata, segala sesuatu dikelola lewat teknologi. Gedung-gedung pencakar langit berserakan di mana-mana. Tak ubahnya seperti pasir di pinggir pantai. Manusia  mampu menundukkan alam sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dunia semakin kecil lewat kecanggihan teknologi. Berita di salah satu ujung dunia bisa langsung di saksikan oleh warga dunia.

Bumi ini yang pada awalnya di penuhi dengan hutan rimba, segala jenis binatang, kini manusialah yang menguasainya. Semuanya tersinggkirkan. Manusialah penguasa tunggal. Bersamaan dengan itu, mahluk hidup lainnya yang kalah dalam persaingan mulai tersingkirkan, bahkan punah sama sekali. Banyak spesies yang telah lama hilang. Semuanya tinggal sejarah.

Kemodernan menghasilkan kesenjangan hidup. Di mana salah satu berkembang pesat, dan yang lain semakin kerdil bahkan musnah. Tidak hanya alam dan mahluk lain yang rusak akibat kemodernan, tapi manusia sendiri menjadi korban kemodernan. Mereka adalah manusia yang tidak mampu bersaing. Mereka terlempar ke luar dari dunia fantasi ini. Disharmoni yang tercipta menjadikan manusia tidak mengenal dirinya. Lupa akan identitasnya, dan tujuan hidup di dunia ini. Sebab baginya yang benar adalah yang rasional, yang tidak rasional di buang saja. Sehingga suara hati, perasaan kagum akan keindahan, kepercayaan pada Allah adalah omong kosong.

Film Baraka ini menunjukkan kesenjangan hidup manusia. Ada manusia yang sangat kaya dan ada manusia yang sangat miskin, yang tidak memiliki tempat tinggal dan makanan untuk tetap hidup. Muncul istilah wong cilik dan wong gede. Kemajuan iptek menciptakan kelas, di antara manusia, menjadikan manusia robot, yang seluruh hidupnya dibaktikan untuk kerja. Manusia terlepas dari alam, tidak bersentuhan lagi dengan alam. Sepertinya alam menjadi asing bagi manusia modern. Semua berlomba untuk menjadi manusia-manusia robot.

 Kerakusan manusia untuk mengejar kekayaan menjadikan manusia lupa akan pentingnya rasa solidiritas baik itu terhadap alam maupun sesama manusia. Kemajuan teknologi mereduksikan aspek moralitas.

Pada dasarnya kemodernan itu baik bagi hidup manusia, sejauh itu dapat dikontrol oleh manusia.  Tapi kenyataanya teknologilah yang mengontrol manusia. Sebab teknologi mamaksa manusia  untuk memenuhi kebutuhannya. Maka persainganlah yang menjadi prioritas. Akibatnya, lahirlah kesenjangan hidup. Orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin dan tertindas.  Di samping  gedung yang menjulang tinggi, menempellah gubuk derita. Alam yang indah ini dirombak menjadi tong sampah kemodernan.

Bangunan Gereja yang begitu megah yang dibangun pada abad pertengahan tinggal menjadi sejarah, museum tempat orang wisatawan asing maupun domestik. Begitu juga dengan bangunan-bangunan yang berbaur religius lainya tidak menarik lagi. Hidup manusia adalah persaingan. Mau bersaing merarti mau hidup, kalah bersaing berarti derita.

    

~ oleh noveonline pada Desember 1, 2007.

Satu Tanggapan to “B A R A K A”

  1. lumayan bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: