Seksualitas dan Moralitas

Oleh: Noverius laoli

Pengantar    

Berbicara tentang seksualitas dan moralitas tidak berarti hanya sebatas hubungan badan saja. Tapi lebih pada keputusan moral sejati yang diambil sering kali dikacaukan oleh pengaruh masalah-masalah penting yang berkembang dewasa ini, sehingga membelenggu secara erat hidup manusia.

Menurut psikolog Ervin Staub, “moralitas adalah serangkaian aturan, kebiasaan atau prinsip yang mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama, suatu perilaku yang mencerminkan keluhuran manusia”. [1] dengan demikian moralitas  terdiri atas lingkup yang terpilah-pilah dari perilaku yang harus dijunjung tinggi oleh mereka yang percaya, dan terbukti diterima dalam interaksi sosial maupun hubungan pribadi.

Dalam pembahasan ini, saya tidak hanya membahas seksualitas hanya sebatas hubungan intim, tapi lebih luas daripada itu. Hubungan seksual di sini berhubungan dengan pemberian dan penerimaan antara laki-laki dan perempuan. Hubungan seksual yang dilakukan bukan semata-mata demi kesenangan saja, tapi lebih pada tindakan kesatuan  yang menuju pada pro-kreasi. Sehingga seksualitas dengan moralitas sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini

Manusia tidak hanya sebatas mahluk seksual tapi ia juga mahluk yang memiliki moral, karena ia memiliki nalar dan kehendak bebas. Kemampuannya ini membawanya pada kebaikan moral dan bertindak secara moral.

Manusia Sebagai Mahkluk Seksual 

A. Pengertian Seksualitas Secara Umum

Dalam kamus bahasa Indonesia kata yang yang berhubungan dengan seksualitas hanya kata seksuil, yaitu yang berkenaan dengan jenis kelamin (laki-laki atau perempuan); yang berkenaan dengan perkara percampuran antara laki-laki dan perempuan.[2] Bertolak dari pengertian ini, saya mencoba membahas apa itu seks. Seks berarti tindakan hubungan badan antara laki-laki dan perempuan. Ada juga hubungan seks yang dilakukan sesama  jenis, misalnya laki-laki dengan laki-laki, biasanya dilakukan seks oral atau anal, dan perempuan dengan perempuan. Dalam pembahasan ini saya hanya membahas seks yang berkaitan antara laki-laki dan perempuan. Kontak badan antara yang berlawanan jenis bisanya menimbulkan gairan seksual. Banyak orang mengatakan bahwa gairah itu bagaikan aliran listrik yang bisa menggungcang setiap orang yang mengalaminya. Hubungan bandan ini memberi kenikmatan dan kepuasan bagi yang melakukannya. Dengan demikian hampir setiap orang mencarinya dan tidak terkecuali kaum muda yang masih dalam tahap pendidikan dan pubertas yang sering sekali tidak dapat mengendalikan nafsu seksual mereka.

B. Manusia Sebagai Mahluk Seksual

Sejak zaman dulu hingga sekarang ini ada banyak filsuf dan teolog yang membahas tentang manusia sebagai mahluk seksual. Mereka mencoba mendalami apa itu manusia sebagai individual dan hidup bersama sebagai mahluk komunal. Ada beberapa pandangan yang muncul tentang manusia sebagai makhluk seksual. Tapi salah satu tokoh yang begitu menonjol adalah Joyces yang memberikan suatu pencerahan dalam pengertian seksualitas manusia. yaitu Ekology Seksual Manusia. a.

Seksualitas

Keseimbangan ekology di dalam pribadi manusia sebagai mahluk seksual adalah  kebutuhan akan penghargaan dari semua elemen dan lingkungannya. Sementara sekarang ini ada banyak hal ketidakseimbangan di dalam budaya kita. Ini disebabkan oleh pemusatan myopic pada dimensi fisik dari kepribadian manusia. Dimensi ini adalah perspeksif yang buruk yang telah menghantar pada identifikasi seksualitas dengan organ seks dan kesenangan semata. Maka tepat kalau dibaca kutipan yang ditulis oleh Joyce dibawah ini

The immature inclination to restrict the consideration of sexuality and human  sexual energy to the bodily or the physical part of human beings has been one of the most significant factors in perpetrating the crisis in human sexual ecology from which the world has suffered in many forms throughout the ages[3] 

Di sini Joyce memasukkan dimensi spiritual dan psikis dari pribadi manusia bersama dengan seksual ecosphere sebagai sebuah kebutuhan untuk melangkah menuju re-definisi seksualitas itu sendiri. Supaya lebih jelas dapat dibandingkan dengan kutipan dibawah ini:

Sexuality, then, can be defined as the personal power to share the gift of self with self and with others. Sexuality is basically the power of sharing self. Sharing involves giving and receiving – not giving and getting I will simply suggest that every person may be regarded as  sexual (male or remale) in as much as he or she has the natural power to share self.[4] 

Dari kutipan di atas, jelas sekali dikatakan bahwa definisi seksualitas sebagai sebuah kekuatan personal untuk membagi diri dengan diri (self with self) dan dengan yang lain adalah satu hal yang disebut sebagai sebuah penilaian baru dari seluruh hubungan manusia. Karena alam pandangan ini, seksualitas manusia adalah esensi dari hubungan kita dengan diri kita sendiri, kepada orang lain, kepada semua ciptaan, dan kepada Tuhan. Maka, seksualitas memiliki hubungan yang spesifik dan sungguh-sungguh.

b. Genitality

Dengan mendefenisikan  seksualitas sebagai kekuatan personal untuk membagikan hadiah pada diri sendiri dan orang lain. Joyce telah berusaha untuk meluaskan visi dari manusia sebagai sexual being. Tapi caranya dalam hubungan dengan human being – adalah jalan yang disebut sebagai seksual – adalah kompleks dan bermacam-macam. Dalam hal ini kita secara langsung memberi perhatian pada satu jalan yaitu Human being yang mungkin membagikan dirinya dengan orang lain. Alat kelamin (genitality) sebagai mana akan dijelaskan lebih lanjut, adalah sebuah alat yang berfungsi  untuk membagi kepenuhan  yang memiliki arti intrinsik. Sebuah diskusi dari korelasinya dengan seksualitas akan menyingkap mengapa ini terjadi.

 sexuality is not genitality. We often fail to distinguish the two. Genitality is our personal and social power to share the gift of life in space and time with a new human being. Genitality is a special, dramatic physical power – the power of sharing life. It is a natural power to share our space-time life with another person of either sex, a child.[5] 

Di sini membedakan genital dengan seksualitas secara mendasar. Pertama adalah ditemukannya bahwa dalam penggunaan genitality sebagai sebuah pribadi yang tidak membagikan dirinya sendiri dengan pribadi lain yang telah mengada. Salah satu yang membagi kekuasaannya adalah memberikan hidup dengan sebuah yang ada yang baru yang dibawa ke dalam dunia. Maka fokus dari genitality adalah tidak menemukan hubungan pria – wanita tapi lebih ditujukan pada saling menghargai hidup bersama dengan anak-anak mereka.

 In exercising one’s genitality a person does not specifically share the gift of self. One share specifically the gift of life. Naturally, the individual wants to share self, too, and does – in that action generally, but not specifically, genitality is a power different from sexuality. Genitality is a power that has specific organs pertaining to it. Sexuality does not[6].  

Perbedaan kedua antara genitality dan sexuality adalah memberikan perhatian dengan mengakui tempat yang dipertanggungjawabkan dengan menghargai kekuatan seksual dan alat kelamin (genital). Pengakuan itu tetap bahwa seksualitas adalah sebuah kekuatan personal di mana genitality  adalah sebuah kekuatan yang personal dan komunal. Karena itu, tanggung jawab satu sama lain  dalam hal ini akan dibedakan. Ini mau mengatakan bahwa menghargai seksualitas adalah semata-mata tanggung jawab setiap pribadi individu mengingat dengan genitality society telah menjadi tanggung jawab utama. Dengan konsekuensi, genitality secara spesifik adalah tidak menjadi kekuatan personal. Meskipun genitality secara umum adalah kekuatan personal, tapi secara spesifik adalah sebuah kekuatan komunitas umat manusia. Kapan seorang anak dipahami, bahwa anak telah menjadi tanggungjawab komunitas secara defenitif. Meskipun orang tua mereka mati dalam waktu dekat setelah mereka lahir. Namun anak itu akan menjadi tangan kanan masyarakat sampai ia mati. Dan seandainya anak tersebut menjadi orang tua kelak, banyak genarasi yang mungkin akan memelihara budaya dalam komunitas manusia karena satu dari konsepsi dari dua orang tua beberapa tahun sebelumnya. Kekuatan genital kita adalah kekuatan personal yang kita miliki, dan bukan dari individu yang lain. Dan anak yang diasuh merupakan tanggung jawab orang tua yang tidak sederhana[7].

Pribadi Manusia 

A. Laki-laki dan Perempuan

Yang menjadi diskusi besar zaman ini adalah perbedaan antara  sek (sexes) yang telah menjadi kesempatan bagi pergerakan kebebasan wanita. Kesempatan kerja dan pembayaran upah yang wajar adalah  area pertama  dalam modifikasi demonstratife sebagai sebuah penghargaan yang baru terhadap wanita dan hak mereka perlu diperhatikan. Di dalam rumah juga demikan halnya, perubahan harus nampak hasilnya. Sekarang ini kita melihat suami istri membagi aturan dalam mengelola waktu mereka masing-masing dan saling menghargai keputusan tersebut.

Perubahan di sini telah terlambat, mereka mengungkapkan perhatian mereka tentang  “kebutuhan dalam persamaan”.  Perbedaan yang disugestikan dengan istilah sociocultural dan socionatural, bila keduanya diterapkan pada aturan-aturan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, itu penting untuk mengapresiasi kepedulian mereka.

Dasar untuk membedakan ini adalah bahwa aturan-aturan sosiocultural difokuskan pada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan. Mengingat aturan sociocultural berhubungan dengan keadaan/status laki-laki dan perempuan.  Dan dimana aturan sosiocultural adalah instruktife sebagai alat yang spesifik untuk membuktikan secara mendalam dan mendasar perbedaan laki-laki dan perempuan. Sebuah kebenaran ecokology seksual akan dimengerti sebagai kebenaran yang menyingkap tentang sexuality laki-laki dan perempuan dalam aturan-aturan sociocultural.

Konsekuensinya adalah bahwa kita perlu mencari identitas sexual yang lebih dalam dan jauh lebih dalam daripada identitas sociocultural. Hukum-hukum yang membedakan masyarakat laki-laki dan perempuan, seperti pemburu dan tukang pancing manusia dan kepedulian kepada anak bagi wanita. Kepedulian ini memberi beberapa petunjuk yang dapat dianggap sebagai tujuan akhir laki-laki dan perempuan sebagai makluk seksual. Tapi sebagaimana hukum-hukum lain tidak semuanya tegas. Sebagaimana hukum-hukum menemukan pertentangan dan perubahan dalam masyarakat yang berbeda. Hukum-hukum tersebut mampu melintasi garis sejarah dan budaya. Ini telah membentuk lingkungan sekitar mereka, struktur mendasarnya adalah laki-laki sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. Hanya laki-laki yang menjadi ayah. Hanya perempuan yang menjadi ibu. Hanya laki-laki yang dapat menghasilkan sperma. Hanya perempuan yang dapat menghasilkan ovum. Hanya wanita yang dapat melahirkan anak dari rahimnya.[8] Dalam hal ini Robert E. Joyce secara intens menonjolkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara mendasar dan alamiah.

Lebih jauh lagi bahwa laki-laki dan perempuan bukanlah struktur yang statis. Mereka adalah struktur yang dinamis. Oleh karena itu ia menegaskan  ia berusaha membuktikan bagaimana melengkapi  laki-laki dan perempuan secara dinamis dihadirkan dalam setiap dimensi ekosistem manusia. inverstigasi ini, diharapkan memberi klarifikasi pada pembahasan sebelumnya yang dapat membuat pengertian kita jauh lebih baik untuk memahami identitas sexual dari pribadi manusia – laki-laki dan perempuan.

 B. Identitas Seksual.

Setiap aktivitas  seksual adalah setiap pembagian dirinya dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain yang meliputi seluruh ekosistem pribadi manusia. Maka, ketika seseorang membagi dirinya sendiri dengan orang lain, dia secara spesifik menunjukkan dirinya entah sebagai seorang pria atau wanita. Tindakan ini mau mengungkapkan bahwa setiap pemberian dan penerimaan menunjukkan secara spesifik bahwa dia benar-benar seorang pria atau wanita.

Karena itu, identitas seksual (sexual identity) dari seseorang secara emphati adalah seorang laki-laki yang berperang sebagai pemberi dan wanita berperan sebagai penerima dari apa yang diberi. Ilustrasi ini mau menggambarkan  bagaimana  interaksi ini  pada setiap tingkat dari komunikasi personal – jiwa, tubuh, dan spiritual.

C. Kelengkapan Jasmani

Pria dan wanita cenderung memberi dan menerima, karena tindakan ini adalah kodrat dasar manusia, yang harus hadir dalam setiap tindakan pemberian diri. Itu harus dihadirkan dalam setiap kali terjadi sentuhan secara fisik. Lebih jauh lagi dalam banyak cara sentuhan fisik antara lawan jenis sering menimbulkan gairah seksual, karena tindakan sentuhan tersebut adalah simbol dari memberi dan menerima. Tindakan ini akan berkorelasi pada alat kelamin antara pria dan wanita, pada level fisik, tindakan ini sampai pada tindakan sentuhan sepesial.

In an act of coital intercourse, the man gives his penis to the body of the woman. But, if he is acting in accord with his genuine power to share, he acts in a receiving sort of way; not simply of his own satisfaction, but for hers, and in a manner that is open to  the potential for new life. The woman receives the man’s penis. But if she is acting in accord with her power to share, she acts in a manner that gives an opportunity for full coital play and total generative contact. The man does not force himself upon the woman, but gives himself in a receiving manner. The woman does not simply submit herself to the man, but receives him in a giving manner. Coital union is a remarkable structural evidence for the meaning of man and woman.[9] 

Struktur ini membuktikan kelengkapan tubuh jasmani laki-laki dan perempuan yang akan mencari klarifikasi yang lebih bersar dengan dinamika memberi dan menerima yang mempertemukan mereka pada tingkat hubungan secara genital.

Penertian Moralitas 

Sebenarnya manusia tidak hanya sebatas mahluk seksual, tapi manusia juga adalah mahluk yang bermoral. Manusia harus dimengerti peranannya sebagai mahluk moral yang selalu menuju pada realitas dirinya sebagai mahluk bermoral dan juga sebagai mahluk seksual.

 A. Manusia sebagai Mahluk Moral

Martabat manusia sebagai pribadi yang memiliki nalar, hanyalah merupakan salah satu sisi dari signifikasi moral yang dicapai manusia sebagai mahluk yang diciptakan sebagai mahluk yang secitra dengan Allah. Karena manusia dengan penalarannya mampu memberi arti pada setiap tindakannya. Manusia telah memiliki kemampuan dengan menggunakan nalar dan berkehendak bebas dan dengan kemampuan ini ia mampu mencipta seperti Tuhan. Kemampuannya untuk menjadi pencipta  membawanya pada sesuatu kebenaran yang baru – manusia memiliki kemampuan kreatif melalui perasaan yang dia miliki. Lebih jauh  lagi ia mampu mengerti atau mengetahui eksistensinya sendiri.  Meskipun manusia mampu menjadi pencipta tapi ia adalah salah satu mahluk yang memiliki moral yang dalam kenyatannya ia termasuk dalam spesies manusia, itulah kemampuan manusia untuk memilih konstitusinya sendiri sebagai mahluk moral.

 None of us – no human being anywhere – was a moral bring at conception or even at birt. But each of us was a being of moral worth from the very beginning of his existence and was radically capable, precisely because he was a being of moral worth or a living word of God, of becoming a moral being, that is, a being capable of coming to know his identity and freely shaping his life by acting in response to his knowledge of what it means ot be a human being.  A moral being is one who is able ot tell right from wrong,  to distinguish is from ought, and capable of self-determination. A moral being bears duties and obligations as well as right and dignity. All human beings, the Christian believes, are of moral worth, bearers of inalienable rights. Ultimately, most human beings become moral beings, bearers of obligations, because being living words of God capacitates them for acting intelligently and freely, but they actually become moral beings or moral agents because others have given them the opportunity to develop these capacities[10]. 

Kutipan di atas adalah fakta tentang manusia yang membuat dirinya bertanggung jawab bagi dirinya sendiri. Tulisan ini mau mengatakan bahwa manusia membuat dirinya  menjadi seorang yang dapat dan mampu untuk memberi respon, dalam semua pilihannya, sesuai dengan kebutuhannya. Manusia juga adalah mahluk yang memikul tanggung jawab pada semua pilihannya.

Dalam kondisi manusia yang aktual kita menemukan individu-individu yang tidak bermoral. Karena itu manusia sebagai mahluk bermoral harus mempertahankan eksistensinya sebagai mahluk bermoral. Salah satunya melalui keluarga. Di dalam keluarga manusia diajari untuk bertindak jujur dan bermoral. Karena tujuannya adalah mengarahkan manusia pada perilaku yang baik.Manusia sebagai mahluk bermoral secara alamiah sebagai seorang pemberi dan memberi secara independen lebih dari fungsinya sebagai mahluk yang memiliki kemampuan yang rasional dan berkehendak bebas.

Profesor May mengatakan, meskipun beberapa manusia tak pernah menjadi mahluk moral, salah satunya disebabkan karena mereka mati pada waktu kecil, sebelum mereka dapat mengembangkan kemampuan mereka untuk berpikir dan dengan bebas memilih bagi diri mereka sendiri, atau disebabkan oleh beberapa kondisi penyakit. Masalah lainnya lagi adalah karena  sakit atau umur tua. Tapi semua masalah ini, kepercayaan Kristiani dan mengingatkan manusia sebagai mahluk moral, berharga di mata Tuhan. Karena itu Yesus memberikan hidup-Nya dan Dia membawa kemuliaan dari kebangkitannya.[11]

Profesor May mengungkapkan distingsi yang tidak hanya menunjukkan kondisi kebutuhan moral decision-making, tapi menujukkan juga kerapuhan eksistensi anggota keluarga tertentu dari keluarga manusia. maka dapat dikatakan bahwa mereka bebas untuk melanjutkan eksistensi mereka pada tujuan yang baik sebagai mahluk bermoral. Lebih jauh lagi, kemampuan nalar dan kehendak bebas secara nyata dapat berkembang di dalam pribadi manusia secara pasti. Maka, semua mahluk moral yang dapat menggunakan kemampuannya, secara potensial akan menjadi lebih berakal budi dan dapat mencapai tingkat kebebasan yang lebih besar. Perkembangan ini mengambil tempatnya melalui tindakan manusia dalam pengalaman konkret setiap hari.

 B. Dosa: Sebuah Faktor Ketidakmampuan

Tapi perkembangan sebagai mahluk moral tidak selalu berdampak positif. Manusia setelah menjadi bebas dan membuat pilihan yang tidak sesuai dengan sikap alaminya sebagai mahluk rasional.  Ini semua mau mengatakan bahwa manusia tidak selalu menggunakan nalar dan kehendak bebasnya.  Tetang hal ini juga tradisi Judeo-Christiani sering menjelaskan pengertian dosa dan kondisi manusia sebagai efek dari dosa pertama.

 …the world is wounded by sin, broken by sin. We find ourselves unable to love and at a lost to understand ourselves; and unable, as Paul tell us, “to carry out the things I want to do” but, instead, doing the very things we hate (Roma 7:15). Sin cripples us in our struggle to know who we are and what we are to do, and then in our endeavor to do what we know we are to do[12]. 

Maka secara aktual manusia ada di dalam kondisi manusia yang bernalar yang telah didistorsi dan melemahkan beberapa tingkatan akibat tuntutan tekanan dari diri sendiri yang mengalami disintegritas karena dosa. Tapi kemampuan ini tidak menghancurkan sejak distorsi dan kelemahan dapat diatasi.

Moralitas Seksual 

A. Pengertian Integral Seksualitas Manusia

Pemahaman integral  seksualitas dimulai dengan idea yang memiliki arti intrinsik pada seksualitas manusia. Ini berarti hanya yang dapat dilihat dengan merefleksikan bentuknya secara total,  misalnya ekspresi manusia dalam dua hal yang berbeda namun kemampuan-kemampuan itu melengkapi seksualitas manusia – laki-laki dan perempuan.

Pokok permasalahan di sini berada pada dua pilihan antara dua hal yaitu laki-laki atau perempuan, kita hanya dapat menemukan setengah dari apa yang menjadi keperluan seksualitas manusia. Dengan kata lain, identitas seksualitas laki-laki atau perempuan hanya menyingkapkan setengah arti yang tersembunyi dari seksualitas manusia. Spesies manusia dibedakan dalam dua jenis kelamin yang saling melengkapi tapi bukan oleh kebetulan tetapi melalui rencana ilahi. Tujuan dan artinya, kemudian, mempertanggung- jawabkan ciptaan dalam aturan-aturan yang memiliki arti tersembunyi sebagai mahluk seksual.

Dengan seksualitasnya, laki-laki mampu untuk bersetubuh dengan wanita dan sanggup untuk menghasilkan sperma yang dapat menyatu dengan ovum perempuan  yang menjadi konsepsi (conseption) dan hidup baru. Dan dalam cara yang sama perempuan mampu bersetubuh dengan laki-laki dan menghasilkan ovum yang akan bersatu dengan benih laki-laki dan menghasilkan hidup baru. Fakta ini adalah bagian dari realitas yang lebih daripada unsur biologi saja – seksual kita merupakan penjelasan dari identitas seksual laki-laki dan perempuan; penjelasan itu bagaimana dan mengapa keduanya bebeda dan saling melengkapi.

 … being male or female is not something merely biological. It is not merely biological precisely because the body of a human person is not an instrument or tool of the person, something other than the person, but is rather constitutive of the being of the person and an espression or revelation of the person. I and my body are one in being; I am personally my body and  my body is personally me. I do not have or possess a body different from my self. The body-self I am, the person I am, is a sexual person, not an asexual one. Sexuality is therefore integral to the human person, and the sexuality of a human person is of necessity either a male or female sexuality.[13] 

Secara mendasar, seksualitas manusia adalah secara total saling melengkapi dari laki-laki dan perempuan hanya dapat direalisasikan dalam kesatuan mereka satu sama lain – penyatuan yang bertanggung jawab dengan saling menguntungkan dan pemberian secara total dan penerimaan satu sama lain. Karena itu kedua pribadi secara bersama memilih untuk saling menguntungkan dalam tindakan fisik yang diungkapkan realitas diri mereka berdua dalam satu mahluk yang berstubuh dengan alat kelamin.

 It, is, moreover, not just any kind of life and love that is meant to be shared through this deeply personal deed; through this act each comes to “know” the other and to be “known” by the other in a unique way. The kind of love meant to be expressed by this sexual touch is aptly called “spousal” or “weeded” love, a love different in kind from ordinary friendship love, the kind of love we are meant to extend to all[14]. 

Dalam hubungan ini setiap pribadi memiliki arti secara intrinsik dari seksualitas secara autentik yang diungkapkan di dalam hubungan intim maka sebagai kesatuan mereka  membagi kesatuan pribadi mereka tersebut secara rill dan tidak hanya bersama secara fisik saja. Lebih lanjut, pribadi yang memberi secara total adalah terbuka untuk maksud yang lain secara intrinsik bagi seksualitas mereka – procreative.

 There is something of paramount human significance in the fact that one special kind of touch, the touch of coital sex, not only requires for its exercise a difference between male and female but also expresses in its own inherent dynamism an intimate, exclusive sharing of life and love. Moreover, this touch, open to the transmission of life, is capable of communicating that life and that love to a new being, a new body person of priceless and irreplaceable value.[15] 

Kesimpulan May menggambarkan bahwa respek ekspresi sexual genital adalah penghargaan pribadi-pribadi manusia dan arti intrinsik dari hubungan seksual mereka hanya ketika hubungan itu mengambil bagian  di antara laki-laki dan perempuan bersama  dalam sebuah hubungan pernikahan. Dan kesatuan  ini secara penuh menghargai arti intrinsik dari hubungan seksual mereka  ketika merusak salah satu dimensi entah dimensi kesatuan atau pro-kreasi.

Pada hakekatnya hubungan antara dimensi kesatuan dan pro-kreasi tidak dapat dipisahkan. Semua ekspresi genital yang dilakukan diluar konteks menentang harga diri manusia secara pribadi karena melanggar aspek dari kebaikan manusia atas tindakan seksual mereka yang sifatnya alamiah dan bermartabat. Seperti menentang perbuatan manusia yang tidak dapat dimengerti secara biologi, sebagaimana kita telah mendefinisikannya, dalam istilah-istilah penciptaan manusia yang segambar dengan Allah. Sebagai mahluk rasional yang dapat menentukan tindakannya sendiri.

Apa yang telah dikatakan mungkin sekali  mengakui tiga klasifikasi umum perilaku seksual genital kemudian tindakan hubungan intim lainnya di dalam kesatuan hubungan perkawinan yang baik secara unitive dan terbuka untuk generasi yang baru. Di sini juga dapat kita kenal tindakan seksual yang tidak merupakan hubungan intim, seperti masturbasi, oral, anal, dan tindakan homoseksual, tindakan hubungan seks secara genital di luar perkawinan yang merusak bagi segi unitive (kesatuan) maupun pro-kreasi, yang menentang hukum kodrat manusia sendiri atau konsepsi.

Semua tindakan ini, masuk dalam konteks metodology hukum alam, yang diangap sebagai  melanggar hukum alam dan manusia secara pribadi: mereka ini dipandang menjadi manusia yang tidak dapat menjadi mahluk rasional sejak tindakan itu mereka lakukan, pelanggaran terhadap martabat manusia berarti seksualitas manusia tidak dapat diidentifikasi. Seperti tindakan yang tidak rasional dilihat sebagai dekonstruksi integral manusia secara keseluruhan dan dengan konsekuensi diklasifikasikan sebagai kejahatan moral. Dalam tradisi kristiani perilaku ini diistilahkan secara objektif atau perbuatan penuh dosa. Selanjutnya, jika tindakan itu ditujukan dalam menentang  kesadaran yang bersifat menghakimi dari beberapa tindakan yang disebut dosa-dosa formal ini.

Dalam perintah yang sekali diakui bahwa determinasi moral ini didasarkan pada penghakiman atas perbuatan yang melanggar, ini sangat menghargai sifat dasar pribadi manusia secara alamiah. Sifat dasar ini digunakan di sini bukan dalam membatasi  jalan yang ditempuh hanya dengan kekuatan fisik. Misalnya untuk menunjukkan bahwa manusia secara umum memiliki semua sifat binatang. Tapi semua aturan hidup manusia berbeda dengan binatang, termasuk identitasnya sebagai mahluk bermoral, dan mahluk seksual.

Dengan konsekuensi, pendapat ini adalah satu hal yang diambil dari semua kemampuan dari nalar dan kehendak bebas manusia. seperti perbuatan-perbuatan yang buruk, perbuatan-perbuatan itu diperdebatkan, bukan karena beberapa tidak ditaati secara sewenang-wenang, atau kemungkinan penerimaan sosial yang memadai, tapi mungkin karena tindakan-tindakan itu melanggar keberanaran moral yang dapat dilihat dalam diri manusia sebagai pencipta yang segambar dengan Allah. Perbuatan-perbuatan tersebut dipadang jahat secara moral karena tindakan tersebut mewakili hati manusia.

B. Pengertian separatis seksualitas manusia

Sebagaimana telah dicatat sebelunya bahwa  rasio yang dimiliki manusia secara fundamental telah mengarisbawahi pemahaman seksualitas manusia yang sifatnya satu (unitive), love-giving, dan prokreasi, dimensi live-giving dapat dipisahkan.

           

…the separatist understanding has severed the existential and psychological bond between the life-giving or procreative meaning of human sexuality and its person-uniting, love-giving, unitive meaning.[16] 

Penyangkalan separatis hubungan intrinsik atas dimensi kesatuan dan pro-kreasi yang artinya secara mendasar inherent dalam identitas seksual pribadi seperti laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut, pengertian separatis menurut May secara terus-menerus, di dasarkan  pada sudut pandang dualistik yang tidak hanya pemisahan relasional,  yang arti interpersonal dari  seksualitas berasal dari biologi, arti reproduksi tapi arti itu juga memisahkan  pribadi dari tubuh laki-laki atau perempuan. [17]

Dualisme ini secara nyata berada dalam dimensi  prokreasi seksualitas yang dilihat secara biologi. Sebagaimana telah dicatat oleh May, menurut sudut pandang separatis “fungsi biologi ini dapat menjadi lebih manusiawi dan secara pribadi berharga ketika fungsi tersebut secara sadar diinginkan dan dipilih.” Tindakan ini suatu pembagian diri manusia pada binatang yang lebih rendah dan tidak pada dirinya sendiri, pribadi yang bernilai.[18]

Satu pemisahan dari realitas pribadi demensi prokreative seksualias yang hanya mengambil arti intrumentalnya saja. Ini mau mengatakan, intrument teresebut memiliki nilai untuk melanjutkan spesies manusia jika setiap orang harus memilih untuk menggunakan badannya  bagi tujuan ini. Maka menurut sudut padang separatis arti nyata seksualitas adalah  berada dalam kualitas relational; itu berarti “…menghargai person-uniting, love-uniting, love-giving, demensi relational dari seksualitas manusia  sebagai kodrat manusia dan aspek personal.[19]

Karena arti relational secara esensial  dan tidak dengan kebutuhan yang dimaksud di dalam prokreasi pada sudut pandang pemisahan yang memberi tempat yang luas pada ekspreai genital dalam seksualitas.

Penutup

Setelah membahas apa arti seksualitas dan moralitas dalam sudut pandang yang lebih luas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa pada dasarnya manusia itu diciptakan untuk saling melengkapi, antara laki-laki dan perempuan. Hubungan seksual yang dilakukan bertujuan untuk menjadikan mereka satu yang mengarah pada penciptaan kehidupan baru. Tindakan penyatuan ini terealisasikan dalam perkawinan yang sah.

Manusia tidak hanya mahluk sesksual saja, tapi juga mahluk yang memiliki moral. Ini dapat dilihat dalam dirinya yang memiliki nalar untuk menentukan mana yang baik dan tidak baik. Karena itulah, manusia memiliki moral, sehingga manusia disebut juga mahluk moral.  Maka antara dimensi seksual dan moral harus diseimbangkan agar tindakan seksual jangan direduksikan pada taraf kenikmatan semata, tapi lebih daripada itu. Sehingga tindakan homoseksual, masturbasi, hubungan seks dengan binatang dapat dicegah, karena manusia memiliki nalar untuk membedakan itu.

 Dengan menggunakan nalar manusia tidak melawan hukum alam akibat tindakan seksual yang tidak dapat ditempatkan secara semestinya sebagaimana yang dimaksud oleh Allah. Melakukan hubungan seksual sesuai dengan hukum Allah menunjukkan bahwa manusia itu memiliki martabat yang lebih tinggi daripada binatang. Karena manusia memiliki moral yang dapat mengontrol tindakan-tindakan yang sifatnya merusak dan tidak bertanggung jawab.          

 DAFTAR PUSTAKA 

Joyce, Robert. 1975. Human Sexual Ecology: A Philosophy and Ethic of Man and Woman, where Robert Joyce states: “In regard to general ethics, I will be expressing some of the ideas of  Germain Grisez in his book, Beyong the New Morality; The Responsibilities of Freedom. Chicago: Franciscan Herald Press

Poerwandaminta, WJS, 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia,  Jakarta: Balaipustaka

May, William E 1984. Sex and the Sanctity of Human Life. Front Royal: Christendom Publications 

Shelton, SJ Charles M.1988. Moralitas Kaum Muda, Yogyakarta: Kanisius

Thomas McMahon, Kevin, S.T.D. 1987. Seksuality: Theological Voices, Massachusetts: U.S. of America 


[1] Charles M. Shelton SJ,  Moralitas Kaum Muda,  (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 11

[2] WJS. Poerwardaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia,  (Jakarta: Balaipustaka, 1982), hlm. 890

[3] Lihat Joyce, Human Sexual Ecology: A Philosophy and Ethic of Man and Woman,, hlm. 2. where Robert Joyce states: “In regard to general ethics, I will be expressing some of the ideas of  Germain Grisez in his book, Beyong the New Morality; The Responsibilities of Freedom.

[4] Ibid, hlm. 19.

[5] Ibid., hlm. 10

[6] Ibid., hlm. 20.

[7] Bandingkan dengan, Human Sexual Ecology, karya Joyce. Hlm. 20-21.

[8] Bandingkan dengan, Human Sexual Ecology,  karya Joyce, hlm. 23.

[9] Joyce, Human Sexual Ecology,  hlm. 70-71.

[10] Ibid., hlm. 5.

[11] Ibid., hlm. 5-6

[12] Ibid., hlm. 7-8

[13]William E. May, Sex and the Sanctity of Human Life (Front Royal: Christendom Publications, 1984),

    hlm. 9

[14] May, Sex and the Sanctity of ife, hlm. 15-16.

[15] Ibid., hlm. 15.

[16] May, Sex and the Sanctity of Life, hlm. 3

[17] Kevin Thomas McMahon, S.T.D., Seksuality: Theological Voices, (Massachusetts: U.S. of America,  1987),  hlm. 92.

[18] Loc Cit.,  hlm 3.

[19] Ibid.,  hlm. 3.

~ oleh noveonline pada November 28, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: