Menggali Tradisi

Oleh  NOVERIUS LAOLI

  Kelemahan bangsa indonesia adalah tak mengenal sejarah dan tradisi dirinya atau akar dirinya. Tradisi dianggap sebagai masa lalu yang tidak berhubungan dengan dirinya.

Tradisi bagi bangsa Eropa adalah sesuatu yang sangat berharga dan dicari. Segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu dipelajari guna mencari sesuatu yang baru di masa kini. Sejarah masa lalu memberi peluang dan membuka suatu horizon baru untuk masa sekarang. Sementara bagi bangsa Indonesia tradisi masa lalu itu tidak diingat lagi, karena sekarang kita sudah bertolak pada tradisi orang lain, secara khusus budaya barat. Coba kita tanyakan pada generasi sekarang, apakah mereka  masih mengenal tradisi para leluhur mereka dan sejarah mereka sendiri? Bagi kita tradisi orang barat itu lebih modern dan lebih bergengsi kalau kita ketahui, daripada mengetahui tradisi kita sendiri. Kita mengganggap bahwa tradisi kita sudah kuno, ngak mode dan ketinggalan zaman.

 Indonesia kaya akan tradisi

Sebenarnya tradisi Indonesia itu sangat banyak. Keanekaragaman budaya atau tradisi ini memiliki kekhasannya masing-masing. Itulah sebenarnya yang menjadi kekayaan yang dapat dipergunakan untuk dapat membangun Indonesia saat ini. Tradisi yang kaya dan banyak ini dapat dijadikan satu, menjadi budaya milik orang Indonesia seutuhnya. Orang Jepang berhasil membangun negerinya karena semua orang Jepang tahu bahasa Jepang, tradisinya juga sama. Berbeda dengan Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang. Jadi Indonesia berbeda dengan Jepang. Indonesia tidak perlu meniru cara Jepang dalam membangun negara Indonesia.

Ketika suatu bangsa sudah lupa pada tradisinya sendiri, maka bangsa itu tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar. Bangsa ini hanya mampu meniru. Baik itu secara budaya maupun intelektual. Maka secara tidak sadar kita hanyalah bangsa yang sifatnya mimesis. Kita belum bisa menjadi bangsa pencipta (creation). Kita tidak pernah menjadi intelektual produksi eksistensialis. Inilah penyakit kita orang Indonesia yang perlu diusut tuntas. Maka jalan lain adalah melihat kembali bagaimana budaya Indonesia pramodern dan setelah modern. Perlu melihat kesinambungan antara masa lalu dan masa kini, agar kita dapat menarik suatu benang merah yang menjadi perhatian penting bagi perkembangan Indonesia ke depan. Kita juga bisa tahu akarnya mengapa budaya korupsi sulit sekali diberantas di negeri ini.

 Intelektual konsumen

Kecenderungan melihat tradisi hanya sebagai orang luar itulah yang menjadi kelemahan kaum terdidik di Indonesia. Kita asyik sebagai intelektual konsumen. Ini dapat kita lihat sendiri dalam bentuk pendidikan di Indonesia. Tradisi menghafal merupakan hal yang sudah membudaya. Penyeragaman cara berpikir dan segala hal menjadikan kita sulit untuk mencari alternatif lain. Akibatnya tradisi untuk belajar berpikir dan berani berpikir sendiri yang disebut Immanuel Kant sebagai sapere aude tidak tumbuh dan berkembang.

Maka untuk memecahkan masalah yang sekarang kita hadapi jangan meniru bangsa-bangsa yang kebudayaannya sudah sedikit lebih maju daripada kita. Sebab mereka telah mampu mengelola bangsanya secara mandiri, sementara kita masih dalam tahap meniru. Mereka berbeda dengan kita. Bangsa Indonesia harus menelusuri tradisinya sendiri secara strukturalis, agar bangsa ini menjadi bangsa yang dalam istilah Soekarno berani berdiri di atas kaki sendiri. Perlu kita ketahui bahwa Soekarno mendirikan bangsa ini bukan meniru dari cara bangsa asing tapi dengan menggali budaya Indonesia sampai zaman praHindu dan Budha, jauh sebelum datangnya agama islam dan nasrani.

Orang barat memperlalukan traidisi mereka dengan menggali budaya mereka dari  Zaman Yunani, Romawi, Abad Pertengahan, Modern dan sekarang Postmodern. Semua itu mereka analisis untuk menemukan jawaban terhadap masalah-masalah yang muncul di abad ini. Sebenarnya  budaya Indonesia bersifat strukturalis, karena menganut bentuk monistik yang semuanya sudah diatur. Berbeda dengan barat yang menganut budaya linier. Di Indonesia kita percaya bahwa segala sesuatu itu berulang. Jadi kita tidak bebas karena kita sudah terkurung pada siklus yang kita percaya selalu terulang. Orang barat memahami budaya alfa dan omega secara terpisah, sementara kita memahami alfa itu sebagai omega.

Mahasiswa filsafat Universitas Parahyangan

~ oleh noveonline pada November 28, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: