Pertobatan Intellektual

Oleh: Noverius Laoli 

Manusia mengganggap diri sebagai tuan atas alam, sehingga manusia merasa berkuasa dan berhak mengeksploitasi hasil alam, tanpa memerhatikan kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatannya adalah suatu kesalahan paradigma berpikir.

Melihat bencana banjir yang melanda kota Jakarta dan sekitarnya, memberi kita pelajaran bahwa alam bisa marah kalau keseimbangan ekosistemnya terganggu. Akibatnya ribuan orang mengunggsi, rumah-rumah penduduk, kantor, sekolah dan berbagai tempat penting lainnya menjadi sasaran amukan banjir yang tidak dapat dibendung. Banjir tidak hanya menghancurkan harta benda, tapi masa depan orang-orang miskin juga terancam. Mereka tidak memiliki apa-apa lagi pasca-banjir, semua harta yang telah susah payah diperoleh hilang dalam sekejab. Banjir meninggalkan tugas berat yang harus diselesaikan.

Tergganggunya ekosistem alam disebabkan oleh kesalahan berpikir manusia. Alam dijadikan sebagai objek dan manusia sebagai subjek. Sebagai subjek manusia merasa berhak memanfaatkan hasil alam, seolah-olah alam hanyalah sebuah objek yang tidak dapat sakit dan marah seperti manusia.

 Antroposentrisme

Rene Descartes yang terkenal dengan teori “Cogito ergo sum” yaitu saya berpikir maka saya ada adalah awal dari penempatan pikiran manusia sebagai subjek. Alam semesta dan semua yang ada di dalamnya termasuk manusia hanya ada ketika saya berpikir. Yang menentukan segala-galanya adalah saya yang berpikir (ego). Akibatnya semua mitos, agama dan tradisi yang sebelumnya berkembang dan sangat menghargai alam menjadi nomor dua. Dengan pikirannya manusia menjadikan dirinya sebagai penguasa alam, dengan demikian  peran Allah tergantikan.

Ketika manusia menjadikan ego sebagai pusat segala-galanya, maka lahirlah sikap dominatif dan eksploitasi terhadap alam. Hutan Indonesia yang lebat dan yang dulunya disebut sebagai paru-paru dunia dibabat habis. Untuk memperlancar pembabatan ini dibangunlah pabrik-pabrik besar di Indonesia. Pabrik-pabrik pengelola kayu ini tidak hanya ada di kota-koa besar saja, bahkan di pelosok-pelosok tanah air ini juga telah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Pemuda-pemuda di desa-desa yang putus sekolah dijadikan sebagai pekerja-pekerja mereka. Mungkin realitas ini tidak tertangkap, tapi inilah yang terjadi. Mereka dijanjikan dengan upah yang besar, sehingga banyak yang meninggalkan sekolahnya demi mendapatkan uang dari hasil pembabatan hutan ini.  

Nafsu untuk mengejar kekayaan dari hasil alam menghalalkan segala cara untuk dapat terus memanfaatkan hutan yang masih asri itu. Alam dimengerti sebagai instrumental values, yang dapat diperlakukan dengan sesuka hati, demi kebahagiaan dan keuntungan manusia. Maksimalisasi keuntungan dalam bisnis dengan mengorbankan lingkungan hidup sudah merupakan budaya zaman ini. Hutan-hutan yang seharusnya dijaga dan dilestarikan dijadikan sebagai tempat-tempat bisnis yang besar. Pembangunan villa-villa dan perumahan-perumahan besar tersebar di lereng-lereng gunung yang seharusnya menjadi basis keseimbangan alam. Akhirnya pohon-pohon besar ditebang, digantikan dengan bangunan-bangunan baru yang mewah. Maka kegersanganpun terjadi di hampir semua penjuru.

Mengutip kata-kata Paus Yohanes Paulus ke II “Alam akan memberontak saat keseimbangannya terganggu”, merupakan peringatan keras kepada manusia yang  dengan sewenang-wenang menggali kekayaan alam tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkannya kelak. Dampak dari kecerobohan kita menggunakan hasil alam dan tidak memerhatikan keseimbangan alam akan membawa penderitaan (suffering) bagi orang  lain. Lihat ketika musim hujan tiba, banyak tanah yang longsor dan tidak sedikit penduduk yang menjadi korbannya. Banjir terjadi dimana-mana, bahkan daerah ibu kota negara pun menjadi daerah yang paling menderita akibat banjir tahun ini.

 Ekosentrisme

Banjir telah terjadi dan telah merusak ketentraman hidup manusia, khususnya daerah ibu kota. Sekarang perlu perubahan paradigma berpikir. Perubahan dari perspektif antroposentrisme menuju ekosentrime. Manusia bukan lagi pusat dari segala-galanya. Oleh karena itu manusia tidak dapat berbuat segala sesuatu yang dapat merusak alam. Manusia harus menghargai, melestarikan dan menjaga alam.

Peralihan paradigma berpikir dari antroposentrisme ke ekosentrisme dapat dikatakan sebagai pertobatan pengetahuan dan moral. Bukan hanya manusia saja yang dapat bertobat, tapi pengetahuan yang dimiliki manusia juga perlu bertobat. Dalam pemahaman ekosentrisme, alam dijadikan sebagai pusat (deep ekologi). Alam bukan lagi dimengerti sebagai instrument value tapi sebagai intrinsik value, sebab alam memiliki nilainya sendiri. Alam memiliki hukumnya sendiri yang sama sekali berbeda dengan hukum buatan manusia. Ketika alam tergganggu maka manusia akan menjadi korbannya. Hukum alam adalah hukum yang mutlak yang tidak dapat diganggugugat.

Untuk mengelola alam, pengetahuan yang dimiliki perlu diterapkan dalam hukum moral. Bagaimana manusia bersikap terhadap alam yang bukan lagi dipandang sebagai objek yang siap dieksploitasi. Pengetahuan yang diinterpretasi dalam hukum moral menuntut pertanggungjawaban yang penuh dari manusia. Setiap tindakan manusia yang baik maupun yang buruk harus bisa dipertannggungjawabkan.  Tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab selama ini telah terbukti merusak keseimbangan ekosistem alam. 

Perkembangan pembangunan dan ilmu pengetahuan yang kelihatannya baik perlu dicermati  dengan sangat hati-hati. Bagaimana cara untuk mencapai setiap perkembangan yang tujuannya bermanfaat itu tidak mengorbankan manusia dan alam. Tujuan yang baik perlu ditempuh melalui metode yang benar.

Maka tugas yang paling utama adalah apa yang bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.

Mahasiswa S1 Filsafat Universitas Parahyangan

   

~ oleh noveonline pada November 28, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: