MILAREPA SANG GURU AGUNG

HIDUP PADA ABAD 11 DI TIBET 

Oleh: Noverius Laoli

 Milarepa adalah seorang pertapa dan guru agung yang pernah ada di Tibet. Ia hidup pada abad ke-11 di negeri yang sering dijuluki atap dunia ini. Hidupnya penuh dengan tantangan dan penderitaan, dosa, dendam yang meluap-luap yang kelak menghantarnya pada pencerahan. Milarepa adalah anak pertama dari dua bersaudara, ayahnya meninggal ketika ia masih berumur tujuh tahun.

Ayahnya meninggalkan warisan yang melimpah tapi karena Milarepa masih kecil untuk sementara harta itu dipercayakan kepada paman dan bibinya yang kelak menjadi musuh besarnya.Hidup memang aneh, ketika paman dan bibi Milarepa mendapatkan harta peninggalan orang tua Mila, mereka lupa pada janjinya. Malahan mereka memandang Mila sebagai musuh yang harus dibinasakan. Akibat dendam dan sakit hati karena dihianati oleh saudara sendiri, atas hasutan ibunya untuk membalas sakit hati mereka, akhirnya Mila belajar ilmu hitam. Bertahun-tahun ia menuntut ilmu hitam tanpa mengenal lelah.

Dengan ketekunan dan kesabarannya yang didorong oleh kehendak yang kuat akhirnya ia mampu menguasai ilmu hitam dalam taraf yang cukup tinggi. Mila mampu mendatangkan hujan badai dan batu di desanya untuk membunuh semua orang yang pernah membuat mereka menderita. Kecuali paman dan bibinya, dengan maksud agar mereka menyesali perbuatan mereka dan penyesalan karena malapetaka itu membuat mereka lebih menderita. Dendam yang sudah dipendam bertahun-tahun terbalaskan juga. Tapi ada satu hal yang membuat Mila tidak tenang. Ia merasa takut terhadap semua perbuatannya yang telah membunuh banyak orang melalui ilmu sihir yang ia miliki. Ini membuat ia tidak pernah merasa damai. Rasa bersalah dan kharma selalu menghatui hidupnya siang dan malam.

Meskipun di satu sisi ia mengalamai kepuasan karena luka hatinya terobati tapi ia disiksa oleh batinnya sendiri karena perbuatan yang keji itu.Mila kembali berbalik haluan, ia menyesali semua dosanya. Tapi penyesalan saja tidak cukup. Ia harus menebus semua dosa-dosanya ini. Ia bertekad mencari guru yang mampu menghantarnya pada jalan pencerahan. Dengan bantuan guru sihirnya ia mendapat gambaran siapa guru yang akan dia kunjungi dan abdi selama menjalani pencerahan (enlightenment). Ia bertemu dengan seorang guru spiritual yang cukup terkenal yang telah belajar selama bertahun-tahun di India. Buku-buku dari India juga telah ia bawa ke Tibet dan diterjemahkan dalam bahasa setempat. Guru yang sering dipanggil Marpha inilah yang mampu menghantarnya pada pencerahan. Marha dikenal dengan sebutan “Sipenerjemah”. Dengan membawa emas yang cukup banyak ia bertemu dengan Marpha dan mempersembahkan emasnya.

Ia meminta agar Marpha sudi menginisiasinya agar ia bisa sampai pada pencerahan. Benar apa yang sering dikatakan orang, mencapai cita-cita dan harapan tidak cukup hanya dengan sembah sujud dan persembahan. Perjuangan dan kehendak yang kuat dan gigih adalah pisau bedahnya. Marpha tidak langsung menerima Mila menjadi muridnya. Untuk menjadi murid, Mila harus menjalani beberapa persyaratan yang cukup berat. Dari sinilah awal dari penderitaan yang begitu ngeri dalam hidup Mila untuk dapat menebus dosa-dosanya dan agar ia mencapai pencerahan. Sosok Marpha yang tinggi besar dan galak ternyata memiliki sikap yang tegas bahkan terkadang brutal dan kurang manusiawi dalam memeberi perintah dan bertindak terhadap Mila. Mila disuruh mendirikan tiga menara, setelah mengerjakan berbulan-bulan sendirian, dan ketikan menara sudah hampir selesai, Marpha menyuruh Mila untuk meruntuhkan semua menara tersebut dan mengembalikan semua peralatan itu pada tempatnya semula.

Rasa lelah dan kecewa menjadi amarah yang meluap-luap dalam diri Mila tapi ia ingat akan perjanjiannya bahwa ia akan mengikuti apapun agar ia bisa mencapai pencerahan. Maka ia berusaha bersabar dan taat. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, malahan ini terjadi berkali-kali. Dan ketika Mila  melakukan kesalahan, Marpha tidak segan-segan memukul Mila dengan menendang dan menamparnya. Selama berbulan-bulan derita atas perbuatan Marpha yang kejam terhadap Mila terus berlangsung. Ketika sudah tidak berdaya lagi, karena seluruh tubuhnya terluka akibat kerja yang terlalu berat, dan luapan amarah Marpha yang sering memukul Mila dengan keji, membuat Mila berpikir untuk pergi dari tempat itu dan mencari guru lain.

Dengan bantuan istri Marpha sendiri yang sudah tidak tahan melihat Mila jadi bulan-bulanan suaminya Marpha, yang sudah tidak memiliki hati dan belas kasih, Mila akhirnya lari dari tempat itu. ketika mendengar berita itu Marpha menangis. Marpha tidak terlihat menyesali perbuatannya terhadap calon muridnya itu. tidak lama kemudian ketika Mila belajar di tempat lain, pada seorang guru yang adalah Murid Marpha sendiri. Setelah melakukan meditasi selama berbulan-bulan ia tidak pernah mendapat pencerahan dan kemajuan sedikitpun. Ternyata pencerahan hanya bisa terjadi kalau Marpha sudah memberi inisiasi pada Mila. Mau tidak mau Mila harus kembali pada Marpha.

Ketika peristiwa itu terjadi Marpha tidak marah lagi terhadap Mila. Ia menerima Mila dan berjanji untuk menginisiasinya. Latihan yang selama ini terlihat begitu sulit dan membuat Mila menderita hanyalah langkah awal yang harus dilakukan untuk menebus semua dosa-dosa yang pernah dilakukan Mila. Mulai sejak itu Mila melakukan meditasi di gua. Selama berhari-hari melakukan meditasi akhirnya Mila mulai merasakan perkembangan hidup spiritualnya. Ia terus melakukan meditasi hingga akhirnya ia mencapai pencerahan.

Dalam meditasinya Mila tidak diganggu siapapun. Ketika suatu malam Mila bermimpi tentang kampung halamannya. Ia teringat akan ibu dan adik perempuannya yang telah ia tinggalkan lebih sepuluh tahun sejak ia mulai disuruh ibunya untuk menuntut ilmu hitam. Mila rindu sekali ingin melihat mereka. Apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Ia meminta izin untuk pulang. Sesampai di kampung halaman Mila melihat rumah dan ladangnya  peninggalan orang tuanya telah ditumbuhi rumput liar. Tidak ada orang yang merawatnya. Orang kampung juga tidak mau mengambil ladang itu, karena mereka takut akan terkena sihirnya Mila. Mila tidak dikenal oleh sebagian orang kampungnya lagi. Meskipun paman dan bibinya pasti mengenalnya.

Mila memasuki rumah yang sudah kumuh itu, dan yang sudah dipenuhi rumput liar itu dengan hati berdebar-debar. Tidak ada siapapun di sana selain seonggok tulang yang terbaring di lantai. Barangkali itu tulang ibuku, katanya dalam hati. Ia kembali berpikir bagaimana nasip adiknya perempuan. Apakah masih hidup dan menjadi pengemis untuk bertahan hidup? Penyesalan dan tangis tidak dapat dibendung lagi. Dalam hati Mila berkata, mengapa begitu besar cobaan yang ia dan keluarganya hadapi dalam hidup ini. Ketika masih kecil harta mereka diambil paman dan bibinya dan mereka diperbuadak setelah kematian ayahnya. Ketika besar adiknya hidup dari mengemis dan ibunya mati tanpa ada yang peduli dan tulangnya dibiarkan begitu saja. Sambil meratapi penderitaan hidup ini, Mila kembali memikirkan jalan pencerahan yang telah ia pilih. Ia merasa lega ketika sudah tahu semua apa yang terjadi kepada keluarganya.

Ia menjumpai tunangannya dan meminta agar tunangannya mencari lelaki lain untuk jadi suami. Mila memiliki jalan lain yaitu ingin jadi pertapa. Mila melanjutkan pertapaanya di dalam gua-gua selama bertahun-tahun. Di dalam gua tempat Ia mencari pencerahan, Mila mengalami banyak tantangan baik itu rasa dingin yang terus mencekam, kelaraparan dan godaan untuk hidup bebas. Tekad Mila memang sudah bulat untuk melanjutkan pertapaannya untuk menemukan kebenarn sejati. Mila melanjutkan meditasinya ditengah godaan dan tantangan yang bersifat duniawi. Setelah hidup bertapa selama bertahun-tahun di gua-gua, tubuh Mila menjadi kurus, hanya tulang yang dibalut oleh kulit. Bahkan bila ada setiap orang yang milihatnya, misalnya orang-orang yang sedang berburu dan tiba-tiba tersesat di gua Mila, mereka mengira Mila adalah hantu. Banyak orang, yang setelah mengenal Mila dan berbicara dengan dia di dalam guanya menawarkan agar ia hidup seperti biksu-biksu lain.

Hidup di biara yang besar di kelilingi banyak murid yang selalu memberi penghormatan kepadanya setiap saat. Bahkan guru Mila sendiri Marpha hidup berumah tangga. Megapa Mila tidak mengikuti teladan mereka. Padahal guru Mila sangat terkenal dan disegani di mana-mana karena kebijaksanaannya. Guru Mila juga memiliki banyak murid. Demikianlah pendapat orang kepadanya. Mila hanya menjawab bahwa Mila adalah Mila dan bukan Marpha gurunya. Mila tidak harus sama dengan gurunya dalam menjalani hidup ini. Perkataanya ini memang terbukti benar. Mila menjadi orang yang jauh lebih besar dan agung daripada semua guru-guru spiritual pada zaman itu dan zaman sesudahnya hingga sekarang ini. Nafas utama Mila untuk mencapai pencerahan adalah meditasi.

Mila memilih jalan yang berbeda dengan siapapun karena ia memiliki komitmen tersendiri yang berbeda dengan setiap orang. Gurunya hanayalah sarana baginya untuk mencapai pencerahan. Berani berbeda adalah awal dari suatu penjelajahan diri sendiri menuju pencerahan. Begitulah pendapat Mila. Berani bertindak dan berpikir sendiri adalah kunci utama untuk mencapai pencerahan (enlingtenment/aufklärung). Dan inilah yang selalu didengung-dengungkan oleh Immanuel Kant, filsuf besar Jerman di abad ke-18. yang terkenal dengan perkataannya “Sapere aude” (berani berpikir sendiri). Dalam hal ini Mila dan Immanuel Kant adalah dua orang besar yang punya prinsip dan kemauan untuk tampil dengan caranya masing-masing. kalau Mila mencari hidup pencerahan melalui meditasi dan hidup sederhana, kalau Kant mengabdikan seluruh hidupnya dalam ilmu pengetahuan dengan caranya sendiri juga.Melepaskan diri dari dunia dan hidup sederhana adalah jalan utama yang dipilih oleh Mila.

Orang lain yang melihat cara hidupnya ini merasa kasihan dan bersyukur bahwa nasip mereka tidak seperti Mila. Tapi pernakah mereka tahu bahwa Mila merasa jauh lebih bahagia dan beruntung daripada mereka. Meraka hanya mampu melihat kulit luarnya saja, itulah kecenderungan manusia. Mila adalah salah seorang guru agung yang pernah hidup di dunia ini, yang mengajarkan “bahwa unik dan berbeda” dan perbedaan itulah yang menjadi harta yang sangat berharga.

~ oleh noveonline pada November 28, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: