Pendidikan dan pengajaran

Nama: Noverius Laoli 

Pengantar

 Mendidik menurut Kihadjar Dewantara selalu berada dalam konteks mendidik rakyat. Artinya  mendidik rakyat adalah mendidik anak. Maka keadaan yang kita alami sekarang ini adalah hasil dari pendidikan zaman dulu.

Mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia, pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalamnya, pembelajaran merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Maka pendidikan adalah usaha membawa manusia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (Kompas, 19 April 2007).

Pendidikan di Indonesia

Melihat perkembangan pendidikan  di negara ini, kita tidak bisa berharap banyak. Ketidak menentuan sistem pendidikan, buku paket yang digunakan selalu berubah tiap tahun, pendidikan guru yang minim, dan perhatian pemerintah yang kurang serius terhadap anggaran pendidikan adalah fakta yang tidak dapat disembunyikan. Belum lagi budaya kekerasan yang terjadi di IPDN akhir-akhir ini, yang banyak menyita perhatian dan keprihatinan kita sebagai bangsa Indonesia.

Ujian nasional atau UN hingga tahun 2007 ini masih jadi polemik. Namun UN jalan terus. Pada tahun 2008 akan diterapkan di tingkat sekolah dasar (kompas 18 April 2007). Sistem ini disatu sisi menjadi salah satu cara menaikan mutu pendidikan di Indonesia. Secara khusus mata pelajaran yang di-UN-kan adalah mata pelajaran yang memberi motivasi belajar (incentive learning).  Tapi tindakan ini di sisi lain adalah memandulkan arti pendidikan. Yang dikembangkan di sini adalah pengajaran yang identik dengan pengetahuan. Sistem pendidikan-nya dihilangkan sebab pendidikan tidak hanya sebatas pengetahuan tapi juga menyangkut nilai-nilai yang lebih tinggi dari pengetahuan.

Ada berbagai alasan yang kuat mengapa sistem UN ini ditolak. Pertama, sistem UN belum bisa diterapkan pada waktu yang singkat,  sebab masih ada ribuan gedung-gedung sekolah yang tidak layak dihuni lagi. Minimnya guru pengajar di berbagai pelosok di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipandang  sebelah mata. Kedua, sistem UN ini menjadikan siswa tidak menghargai lagi arti pendidikan. Berbagai kecurangan terjadi secara terang-terangan di berbagai lembaga pendidikan selama UN, seperti pengaduan dari  komunitas “Air mata guru” di Medan. Ini pertanda bahwa sekolah-sekolah di Indonesia belum siap menerapkan program ini. Akhirnya dalam konteks sekarang, pendidikan hanya dilihat sebatas angka, lulus atau tidak lulus, sementara nilai-nilai luhur pendidikan dilupakan.

 Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara membedakan antara  sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan”.  Menurutnya pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Manusia merdeka itu adalah manusia yang hidupnya secara lahir dan batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi ia mampu bersandar dan berdiri di atas kakinya sendiri. Maksudnya sistem pendidikan itu mampu menjadikan setiap individu hidup mandiri dan berani berpikir sendiri  atau memakai istilah Kant, sapere aude. Dalam arti luas maksud pendidikan dan pengajaran adalah bagaimana memerdekakan manusia sebagai anggota dari sebuah persatuan (rakyat). Kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan yang bersifat dewasa dan menjunjung tinggi nilai-nilai hidup bersama. Oleh karena itu, setiap orang merdeka harus memerhatikan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup. Dalam hal ini harus menyadari bahwa setiap individu juga memiliki hak yang sama seperti dirinya yang juga berhak menuntut kemerdekaanya.

Hal ini senada dengan apa yang dituliskan oleh Iman Setyawan dalam harian kompas, bahwa tujuan pendidikan adalah “aktualisasi diri yang merupakan pemanfaatan bakat, kapasitas, dan potensi sehingga dapat memenuhi diri dan melakukan yang terbaik” (Kompas, 19 April 2007). Orang yang mengaktulisasikan diri terlebih dahulu harus merasa merdeka. Tanpa ini, mustahil seseorang dapat mengaktualisasikan dirinya. Merdeka dari segala metode yang membuat kita kaku dalam mengekspresikan diri. Manusia tenggelam dalam metode, sementara lupa bahwa metode hanyalah salah satu cara untuk mendidik.

Sistem pendidikan yang sebenarnya adalah bersifat mengasuh, melindungi, dan meneladani. Maka untuk dapat mencapai ini perlulah ketetapan pikiran dan batin yang akan menentukan kualitas seseorang sehingga rasa mantap tadi dapat tercapai. Sifat umum pendidikan yang  Ki hadjar Dewantara canangkan adalah segala daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, (intelect), dan tubuh anak: dalam pengertian taman siswa tidak boleh dipisah-pisahkan  bagian-bagian itu, agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunia-nya (karja Kihadjar Dewantara, 3). Dari pernyataan ini dapat kita menyimpulkan bahwa makna kata pendidikan jauh lebih luas daripada pengajaran. Pendidikan mencakup manusia seutuhnya, baik itu pendidikan intelektual, moralitas (nilai-nilai), dan budi pekerti. Pendidikan menurut paham ini adalah pendidikan yang beralaskan garis-hidup dari bangsanya dan ditujukan untuk keperluan prikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan bangsa lain demi kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia. Dalam hal ini pendidikan yang sesungguhnya adalah menyangkut jiwa dan raga setiap individu untuk semakin dewasa dan mandiri. Pendidikan di sini termasuk lahir dan batin. Serta pendidikan harus melibatkan pertimbangan kemanusiaan dan selaras dengan nilai-nilai hakiki yang ada dalam diri setiap peserta didik.

Pengajaran dan pendidikan

Pengajaran dan pendidikan adalah dua hal yang saling melengkapi. Pengajaran membentuk peserta didik berpikir secara intelektual dan empiris. Sementara pendidikan adalah mendidik peserta didik untuk menjadi manusia yang mampu mandiri baik itu secara intelektual maupun secara moral. Kedua hal ini tidak dapat diabaikan salah satunya. Tetapi pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang membentuk manusia yang mampu membimbing dirinya dan mengambil sikap yang otonom.

Pendidikan bersifat mamanusiakan manusia. Di mana manusia mampu menggunakan seluruh talenta yang ada dalam dirinya, baik itu pikiran maupun hatinya. Yang sifatnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Noverius Laoli Mahasiswa Fakultas Filsfat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

     

~ oleh noveonline pada November 28, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: