St. Agustinus dari Hippo

 Oleh: Noverius Laoli  

Pengantar

Patrologi  adalah ilmu tentang hidup dan karya para bapa Gereja. Salah satu tokohnya yang tekenal adalah Agustinus dari Hippo. Dalam paper ini saya mencoba membahas tentang kehidupan dan pandangannya tentang teologi. Secara khusus pandangannya mengenai Rahmat dan predestinasi. Augustinus Hippo (“Yang tahu banyak”) (13 November 35428 Agustus 430) adalah seorang santo dan Doktor Gereja yang terkenal menurut Katolik Roma. Ia diakui sebagai salah satu tokoh terpenting dalam perkembangan Kekristenan Barat. Dalam Gereja Ortodoks Timur, yang tidak menerima semua ajarannya, dia biasanya dipanggil “Augustinus Terberkati”. Banyak orang Protestan juga menganggap dia sebagai salah satu sumber pemikiran teologis ajaran Reformasi tentang keselamatan dan anugerah. Martin Luther, tokoh gerakan Reformasi, banyak dipengaruhi oleh Augustinus (Luther dilatih sebagai biarawan Augustinian), dan dalam fokus umum Protestanisme, mengikuti Augustinus, dalam dosa asal yang menuntun ke penilaian pesimis dari sebab dan aksi manusia terpisah dari Tuhan. Tulisan-tulisannya – termasuk Pengakuan-pengakuan Augustinus, yang seringkali disebut sebagai otobiografi Barat yang pertama – masih dibaca luas oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia.

I. Kehidupan

Augustinus merupakan anak tertua dari Santa Monika. Ia dilahirkan pada 354 di Tagaste, sebuah kota di Afrika utara yang merupakan wilayah Romawi saat itu. Ia dibesarkan dan dididik di Karthago, dan dibaptiskan di Italia. Ibunya, Monika, adalah seorang Katolik  yang saleh, sementara ayahnya, Patricius seorang kafir, namun Augustinus mengikuti agama Manikean yang kontroversial, sehingga ibunya sangat cemas dan takut.Pada masa mudanya, Augustinus hidup dengan gaya hedonistik untuk sementara waktu.

Di Karthago ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang selama lebih dari sepuluh tahun dijadikannya sebagai istri gelapnya, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Pendidikan dan karier awalnya ditempuhnya dalam filsafat dan retorika, seni persuasi dan bicara di depan publik. Ia mengajar di Tagaste dan Karthago, namun ia ingin pergi ke Roma karena yakin bahwa di sanalah para ahli retorika yang terbaik dan paling cerdas berlatih (belakangan ia menyadari bahwa orang-orang di Roma menolak untuk membiayainya). Namun demikian Augustinus kemudian kecewa dengan sekolah-sekolah di Roma, yang dirasakannya menyedihkan. Sahabat-sahabatnya yang beragama Manikeanis memperkenalkannya kepada kepala kota Roma, Simakhus, yang telah diminta untuk menyediakan seorang dosen retorika untuk istana kerajaan di Milano.Pemuda dari desa ini mendapatkan pekerjaan itu dan berangkat ke utara untuk menerima jabatan itu pada akhir tahun 384. Pada usia 30 tahun,

Augustinus mendapatkan kedudukan akademik yang paling menonjol di dunia Latin, pada saat ketika kedudukan demikian memberikan akses ke jabatan-jabatan politik. Namun demikian, Augustinus merasakan ketegangan dalam kehidupan di istana kerajaan. Suatu hari ia mengeluh ketika sedang duduk di keretanya untuk menyampaikan sebuah pidato penting di hadapan kaisar, bahwa seorang pengemis mabuk yang dilewatinya di jalan ternyata hidupnya tidak begitu diliputi kecemasan dibandingkan dirinya.Monika, ibunya, mendesaknya agar ia menjadi seorang Katolik, namun uskup Milano, Ambrosiuslah, yang mempunyai pengaruh yang paling mendalam terhadap hidupnya.

Ambrosius adalah seorang jagoan retorika seperti Augustinus sendiri, namun lebih tua dan lebih berpengalaman. Sebagian karena khotbah-khotbah Ambrosius, dan studi-studinya yang lain, termasuk suatu pertemuan yang mengecewakannya dengan seorang tokoh teologi Manikean, Augustinus beralih dari Manikeanisme. Namun bukannya menjadi Katolik seperti Ambrosius dan Monika, ia malah mengambil pendekatan Neoplatonis kafir terhadap kebenaran, dan mengatakan bahwa selama beberapa waktu ia merasakan bahwa ia benar-benar mengalami kemajuan di dalam pencariannya, meskipun pada akhirnya ia justru menjadi seorang skeptik.

Ibunda Augustinus menyusulnya ke Milano dan ia membiarkan ibunya mengatur sebuah pernikahan untuknya. Untuk itu ia meninggalkan istri gelapnya. (Namun ia harus menunggu dua tahun hingga tunangannya cukup umur, sementara itu ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan lain). Pada masa itulah Augustinus dari Hippo mengucapkan doanya yang terkenal, “Berikanlah daku kemurnian dan penguasaan diri, tapi jangan dulu” [da mihi castitatem et continentiam, sed noli modo].Pada musim panas tahun 386, setelah membaca riwayat hidup St. Antonius dari Padang Pasir yang sangat memukaunya, Augustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ia meninggalkan kariernya dalam retorika, melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan gagasannya untuk menikah (hal ini menyebabkan ibunya sangat terperanjat), dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Allah dan praktik imamat, termasuk selibat.

Sebuah pengalaman penting yang mempengaruhi pertobatannya ini adalah suara dari seorang gadis kecil yang didengarnya pada suatu hari menyampaikan pesan kepadanya melalui sebuah nyanyian kecil untuk “Mengambil dan membaca” Alkitab. Pada saat itu ia membuka Alkitab dengan sembarangan dan menemukan sebuah ayat dari Paulus. Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam bukunya yang terkenal Pengakuan-pengakuan Augustinus yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia.

Ambrosius membaptiskan Augustinus pada hari Paskah pada 387, dan tak lama sesudah itu pada 388 ia kembali ke Afrika. Dalam perjalanan ke Afrika ibunya meninggal, dan tak lama kemudian anak laki-lakinya, sehingga ia praktis sendirian di dunia tanpa keluarga.Setelah kembali ke Afrika utara, ia membangun sebuah biara di Tagaste untuk dirinya sendiri dan sekelompok temannya. Pada 391 ia ditahbiskan menjadi seorang imam di Hippo Regius, (kini Annaba, di Aljazair). Ia menjadi seorang pengkhotbah terkenal (lebih dari 350 khotbahnya yang terlestarikan diyakini otentik), dan dicatat karena melawan ajaran sesat Manikeanisme, yang pernah dianutnya.Pada 396 ia diangkat menjadi pendamping uskup di Hippo (pembantu dengan hak untuk menggantikan apabila uskup yang menjabat meninggal dunia), dan tetap sebagai uskup di Hippo hingga kematiannya pada 430. Ia meninggalkan biaranya, namun tetap menjalani kehidupan biara di kediaman resminya sebagai uskup.

Ia meninggalkan sebuah Buku Aturan (bahasa Latin Regula) untuk biaranya yang membuat ia digelari sebagai “santo pelindung dari rohaniwan biasa,” artinya, imam praja yang hidup dengan aturan-aturan biara.Augustinus meninggal pada 28 Agustus 430, ketika Hippo dikepung oleh bangsa Vandal. Konon ia telah menganjurkan warga kota itu untuk melawan para penyerang, terutama berdasarkan alasan karena bangsa Vandal itu menganut ajaran sesat Arian. 

II. Teologi Agustinus.

A. Pandangan Agustinus Tentang Rahmat

Agustinus sebagai propagandis utama Gereja Afrika yang berkontroversi dengan ajaran Donatis. Sejak tahun 412 telah mulai menyerang musuh baru ini. Kakalahan Pelagius pada tahun 418 tidak menghentikan perdebatan, tapi terus berlanjut sampai wafatnya Agustinus 430. dalam perdebatan yang panjang tersebut Agustins semakin banyak menarik kesimpulan logis dari pendirian anti-Pelagian, sampai ia mengembangkan suatu pendirian ekstrem yang cukup menguncng banyak pihak yang tidak pernah menduga bahwa Agustinus sampai pada kesimpulan tersebut.

Agustinus menegaskan sikapnya akan pentingnya rahmat dalam buku “Confessions”. Di dalam buku ini banyak dibahas seputar keterbatasan manusia dan perlunya rahmat Allah. “Lakukanlah apa yang engkau perintahkan, dan perintahkan apa yang engkau inginkan” adalah tema pokok dari kitab kesepuluh, yang sudah mengimplikasikan  bahwa hukum itu sendiri yang bagi Pelagius merupakan alat utama rahmat, dan tidak memadai untuk mengubah hati setiap orang. Dalam buku ini juga dengan jelas Agustinus menggunakan pengalaman pribadinya sendiri. Tentang kisah pertobatannya dan masuknya Agustinus dalam gereja merupakan Rahmat Allah dan sekaligus menegaskan tentang lemahnya peranan kehendak yang hanya mendapat kebebasan manakala dibebaskan oleh rahmat illahi.

 Tetapi Kau, ya Tuhan, Engkau baik dan penuh kemurahan, Kauduga dengan tangan kanan-Mu dan Kaulihat kedalaman kematianku dan dari dasar hatiku Kaukosongkan jurang kerusakan. Yang diperlukan ialah supaya aku tidak menghendaki apa yang kuhendaki dan supaya kuhendaki apa yang dikehendaki oleh-Mu. Namun, di mana kemauanku yang bebas itu selama sekian tahun dan dari dasar tempat perasingan dalam yang manakah kemauanku itu dipanggil dalam sekejab…? (Co 9.1.1) 

Bagi Pelagius, pengakuan Agustinus ini hanyalah bersifat retoris saja dan kadang ganjil. Kelihatannya tidak ada sesuatu yang hebat dan luar biasa dalam proses pertobatan Agustinus yang tidak dapat dijelaskan oleh teologinya sendiri. Kultur yang bobrok dan kesenangan sensual menciptakan suatu kebiasaan dosa yang sulit untuk dipatahkan. Meskipun tampak pesimis kebiasaan ini dapat juga dipatahkan dengan suatu keputusan kehendak yang bebas dan spontan manakala jiwa dikorbankan  oleh firman Allah.  Dalam pemahamannya tentang Allah santo Agustinus banyak berpegang pada surat-surat Santo Paulus. Setelah pertobatannya Agustinus menyadari kembali perjalanan hidupnya selama hidup dalam perhambaan  seks dan ambisi tidak hanya melahirkan kebiasaan tapi juga adanya kekuatan dosa asal. Kekuatan yang dimaksudnya tentang dosa asal ini adalah rusaknya kodrat manusia. Kerusakan ini dialami oleh hampir setiap manusia, mulai dari para leluhur semua manusia, pasangan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa.

Agustinus berpendapat bahwa Adan dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa, menikmati hak-hak istimewa yang tidak pernah dinikmati lagi oleh manusia sesudahnya. Mereka bebas dari masalah-masalah kompleks dan dorongan-dorongan irasional; mereka mempunyai pengetahuan yang mendalam dan menguasai alam; mereka mempunyai hubungan yang dekat dengan Allah seperti para malaikat.  Hak istimewa ini semuanya hilang sebagai hukuman bagi manusia karena kejatuhannya dalam dosa.  Efek dari hilangnya hak istimewa ini adalah manusia mempunyai cinta akan dirinya sendiri, bukan cinta akan Allah.

 Manusia dipenuhi juga oleh dorongan-dorongan yang irasional, terutama seks dan agresi, yang menghambat laju manusia untuk mengejar dan mendapatkan yang baik. Agustinus memang mengakui bahwa manusia masih  memiliki kehendak bebas, misalnya mampu membuat pilihan-pilihan secara sadar, tapi kecenderungan manusia bila melakukan kehendak bebas itu malahan ia jatuh dalam yang jahat. Malahan Agustinus berpendapat bahwa para pahlawan moral dari dunia kafir kuno, yang dikenal dengan kebajikan mereka sesungguhnay “perbuatan buruk yang hebat” karena mereka melakukan semua itu yang kelihatan bajik tidak digerakkan oleh cinta kasih Allah.

Manusia ketika jatuh ke dalam lumpur dosa tidak ada lagi harapan akan kembali pada taman firdaus yang pernah dinimati.. meskipun di dalam diri manusia sudah ada kerinduan untuk kembali ke sana. Kerinduan dan kemauan manusia tidak cukup untuk dapat kembali bersatu dengan Allah. Bahkan teladan Kristus sendiri yang telah mati untuk manusia  hanya mampu mengobarkan cinta dan kerinduan manusia untuk kembali kepada penciptanya. Tapi tidak mampu untuk menghantar dan membimbing manusia untuk sampai ke situ. Oleh karena itu, tidak ada cara lain selain memohon rahmat Allah. Sebab pada dirinya sendiri manusia sudah tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Hanya melalui rahmat Allah sendirilah manusia bisa sampai kepada Allah. Dalam istilah lebih luas lagi hanya lewat belaskasih Allah sajalah manusia bisa terselamatkan dari dosa asal.

Bagaimana pun usahanya manusia tetap tidak dapat berbuat apa-apa tanda kehendak dan rahmat Allah hadir dalam dirinya. Agustinus menggunakan contoh Santo Paulus yang bertobat secara tiba-tiba hanya karena rahmt dari Allah. Santo Paulus sebenarnya ingin menganiaya orang Kristiani, tapi ketika Allah berkehendak lain dan lewat rahmatnya yang  berlimpah semua rencana itu bisa digagalkan dan orang yang menerima rahmat tersebut berubah total seturut kehendak Allah.

Maka ketika di dalam diri kita sudah ada sedikit percikan yang mampu memberi tanggapan terhadap Allah, maka rahmat akan membuat percikan itu menjadi kobaran api, yakni dengan cara membawa pengaruh-pengaruh dari luar  yang benar dan membuat kita mampu menanggapi pengaru-pengaruh dari luar tersebut itu.

 “Pilihan bebas dari kehendak adalah sangat kuat,” katamu, tetapi kekuatan apakah yang dimilikinya dalam kasus orang-orang yang dijual di bawah dosa?… kita disuruh bahwa dengan menerima karunia Roh Kudus kita dapat melakukan tindakan-tindakan yang benar karena cinta. Tetapi bagai mana orang dapat percaya jika dia tidak digerakkan oleh suatu panggilan, yaitu oleh seuatu peristiwa?  Siapakah yang berkuasa memastikan  bahwa akan budi selalu menangkap persepsi yang benar sehingga dapat menggerakkan kehendaknya untuk percaya? Siapakah yang dapat menanggapi dengan bersemangat sesuatu yang tidak menyenangkan? Siapakah yang berkuasa memasktikan bahwa dirinya menemui sesuatu yang menyenangkannya atau bahwa dirinya akan senang ketika menemuinya (Si 1.2.21) bahkan ketika kehendak ditarik kuat-kuat ke arah tindakan yang benar, ia berhadapan dengan penolakan  oleh dorongan-dorongan dan kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan.

Rahmat Allah tidaklah memaksa kehendak untuk menaati-Nya secara otomatis. Teks-teks yang telah dikutip menggambarkan pemahaman Agustinus yang tajam tetang bagaimana kehendak manusia bekerja. Rahmat Allah memicu suatu tanggapan spontan dengan cara memberikan inspirasi kepada manusia sebagai mahluk yang sadar dan rasional.

 B. Predestinasi

Menurut Agustinus umat manusia bukanlah benda mainan yang tidak berdaya di hadapan kekuatan kosmik yang saling bertentangan. Ia kemudia menjelaskan bahwa kejahatan tidak memiliki  eksistensi yang nyata, dan manusia memiliki kehendak bebas. Penegasan pandangannya ini dilakukan untuk melawan kaum Manikeis.

Ajaran Agustinus  menegaskan bahwa manusia  di dalam keadaanya yang berdosa hanya mampu berbuat jahat, namun Allah mampu menyelamatkan manusia, dengan memperkuat manusia.  Menerutnya kejahatan  hanyalah suatu defisiensi, tiadanya kebaikan. 

Setiap mahluk ciptaan, melulu karena eksistensinya saja, mempunyai sebagian unsur yang baik di dalam dirinya; setiap mahluk yang sadar  dan rasional mempunyai potensi untuk menanggapi rahmat Allah. Tapi di dalam manusia yang berdosa, kemampuan ini sedemikian lemahnya hingga seolah-olah tidak aktif. Oleh karena itu, ia membutuhkan rahmat Allah yang mampu mewujudkan potensi tersebut. Kekuatan-kekuatan natural yang ada dalam dirinya akan kembali bangkit dan melakukan tugasnya sesuai dengan fungsinya.

Sebagai  mahluk  yang dikaruniai kehendak bebas, manusia dapat memilih tindakan penyembuhan oleh Allah. Keselamatan seluruh bangsa manusia adalah suatu yang mudah dalam kapasitas kehendak ilahi. Rahmat tidak dapat dielakkan.

Universalitas menurut Agustinus  sangat mustahil, apapun pandangan teologi seseorang mengenai rahmat. Universalitas disingkirkan oleh suatu fakta sederhana, yaitu apa yang terjadi pada pembabtisan. Sebagai mana kita lihat bahwa semua orang tidak dibabtis. Maka tidak semua orang diselamatkan. Neraka dan penghukuman merupakan nasip bagi mereka yang tidak dibabtis. Tentu saja pandangan ini sangat sempit dan tidak relesan dengan pemikiran zaman sekarang. Oleh karena itu ada kecenderungan untuk menggali ide tradisional tentang “babtis kerinduan”, suatu cinta akan Allah yang sama nilainya dengan janji yang diikrarkan pada saat pembabtisan. Jadi mereka yang memiliki kerinduan akan Allah tetapi tidak sempat dibabtis, mereka juga diselamatkan.  Pandangan ini ditolak Agustinus. Ia hanya menerima penganti ini dengan babtisan darah, yaitu mereka yang mati karena injil.

Masalah lain tentang Universalitas adalah tema Kitab Suci tentang sisa-sisa yang kudus, yang dipilih karena rahmt (Roma 11:5) dalam konteks awal pemikiran Kristen, gagasan tentang rahmat dikaitkan dengan belas kasih dan pemberian khusus, kontras dengan pandangan yang mengatakan bahwa semua orang memiliki kebaikan kodrati berdasarkan penciptaan mereka. Pada zaman Agustinus, Universalisme sama sekali tidak menjadi masalah. Semua orang kristen setuju bahwa hanya anggota dari gerejalah yang benar dan yang diselamatkan.  Allah memilih orang-orang  yang menerima belas kasih kerahiman-Nya dan menjadikan mereka anggota gereja. Di sana mereka bercambur dengan orang kristen tetapi tidak dipilih untuk diselamatkan.

Satu-satunya pertanyaan yang tertinggal adalah tentang hubungan antara pilihan umat manusia dan pilihan ilahi. Apakah Allah memilih orang-orang pilihan-Nya karena mereka yang sudah ada atau sudah dapat dipilih sebelumnya? Atau apakah pemilihan itu sepenuhnya merupakan karunia yang tidak berdasarkan jasa? Apakah rahmat penyelamatan dari Allah tidak terelakkan dan hanya diberikan kepada sedikit orang saja, atau apakah rahmat itu ditawarkan kepada semua tetapi ditolak oleh sebagian besar orang?

Orang-orang yang tidak sependapat dengan Agustinus sering mengutip ucapan Santo Paulus, “Allah, juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang  diselamatkan  dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 timotius 2:3-4). Ketidak sependapat musuh-musuh Agustinus dengan ajarannya terletak pada  keselamatan diberikan pada semua orang, yang diperlihatkan adalah belas kasih Allah, tetapi bukan keadilannya. Keadilan Allah telah tergenapi dalam penderitaan dan kematian Kristus. Dalam hal ini Kristus telah mengenakan pada diri-Nya sendiri hukuman atas dosa-dosa manusia. injil diberikan kepada semua orang; kebenarannya kelihatan jelas dari kearifan ajarannya, semua orang mempunyai kesempatan untuk menanggapi Injil. Namun, jika mereka gagal mencapai keselamatan, itu bukan karena kehendak Allah melainkan karena pilihan mereka sendiri.

Agustinus menentang pandangan ini karena bertentangan dengan keyakinan-keyakinannya mengenai Allah dan Manusia. banyak orang menolak Injil atau gagal hidup seturut Injil. Menurutnya Allah ingin menyelamatkan setiap orang tetapi tidak dapat mengusahakannya sama saja dengan menyangkal kekuatan dan kekuasaan-Nya.  Fakta bahwa manusia mempunyai kehendak yang bebas berarti bahwa  rahmat ilahi harus bekerja dengan suatu cara yang khusus. Hal ini tidak menyebabkan rahmat menjadi relatif. Fakta bahwa Kristus telah menebus hukuman dosa memungkinkan Allah bermurah hati kepada orang-orang yang dipilihnya, tetapi tidak mengharuskan Dia untuk memperlihatkan kerahiman kepada semua orang.

Masalah lain yang muncul tentang bayi yang meninggal sebelum dibabtis. Apakah mereka bisa diselamatkan atau tidak, karena mereka tidak tahu apa-apa. Maka tidak adil kalau mereka tidak diselamatkan sebab mereka memiliki kesempatan untuk dibabtis (diselamatkan), hanya saja tidak diberi waktu untuk itu. Atas permasalah ini muncul jawaban yang sangat dikenal luas zaman itu adalah bahwa Allah telah mengetahui bahwa mereka akan gagal untuk hidup sesuai dengan rahmat babtisan. Maka Allah membunuh mereka sebelum mereka mencemarkan sakramen  dan diri mereka sendiri. Tentu saja argumen yang tampak rasional ini ditentang oleh Agustinus. Menurutnya ini suatu kecaman terhadap keadilan.  Kata Agustinus, bahwa bayi-bayi yang belum dibabtis dihukum karena dosa-dosa yang belum sempat mereka lakukan. Penghukuman atas diri mereka hanya bisa dijelaskan sebagai hukuman atas dosa yang menyertai kelahiran mereka – suatu dosa yang diwarikan Adam kepada kita semua: dia meninggalkan bagi kita tidak hanya kodrat yang rusak dan ternoda ini, melainkan juga suatu beban berat dosa, yang disebut dosa asal.

Agustinus membenarkan bahwa semua manusia berdosa karena dosa Adam. Oleh karena itu, mereka pantas dihukum walaupun seperti bayi-bayi yang tidak sempat dibabtis, mereka sendiri tidak berdosa. Argumen ini didasarkan pada gagasan tentang  solidaritas natural antara keturunan  dan leluhur. Bagaimanapun kita berasal dari mereka. Tapi tentu saja pendapat Agustinus ini juga sulit dipertahankan. Apakah hanya dengan sikap solidaritas seperti ini semua orang di masukkan dalam nerakan karena menanggung dosa asal? Yang nota bene tidak pernah dialakukan bahkan diketahui.

Masalah tentang dosa asal ini tidak hanya masalah bayi-bayi yang belum dibabtis, tetapi juga bahwa Allah bebas memilih untuk menyelamatkan siapa saja yang Dia mau. Ini memang bertentangan dengan ajaran Kristen sendiri yang menganggap Allah adalah kasih. Agustinus mengemukakan bahwa akibat kesalahan dosa asal, semua orang pantas mendapat hukuman abadi. Penghukuman atas semua orang dituntut karena rasa keadilan Allah. Maka keselamatan sedikit orang adalah bukti betapa dalamnya relung-relung kerahiman-Nya. Allah tidak bermaksud untuk menghukum setiap orang; untuk sebagian besar orang, Allah hanya membiarkan akibat dosa berjalan sewajarnya. Sementara itu, Dia memperlihatkan kasih-Nya dengan cara menyelamatkan yang sedikit; Dia memakai yang sedikit itu kendati terkena akbat-akibat dosa asal.

Allah telah memutuskan dan memilih orang-orang yang akan Dia selamatkan bahkan sebelum mereka lahir, atau lebih jauh lagi sebelum dunia dijadikan. Pilihan awal inilah yang disebut “Predestinasi”. Sejarah panjang umat manusia merupakan pelaksanaan rancangan awal mula itu. Menurut santo Paulus “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga yang dibenarkannya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30).

Setelah menjelaskan panjang lebar tentan ajaran PADESTRINASI dapat disimpulkan bahwa ajaran padestrinasi menurut Agustinus ini tidak  terbukti logis dan diterima oleh akal sehat. Ada beberapa alasan yang mendasar yang perlu dipertanyakan untuk menggugat teori ini. Jika memang Allah telah memilih siapa saja orang-orang yang diselamatakan sebelum dunia dijadikan, itu berarti Allah tidak adil. Allah jua akan sia-sia menciptakan manusia di dunia ini sebegitu banyaknya tapi hanya beberapa saja yang diselamatakan. Untuk apa orang berbuat baik jika sudah dari sananya ia tidak akan diselmatakan. Sia-sialah semua pengorbanan manusia. argumen padestrinasi ini memang tidak kuat bila dipertanyakan soal adil tidak adilnya Allah dalam karya penyelamatannya. Untuk apa juga Allah mengutus Yesus kalau memang Allah sudah memilih orang yang akan diselmatakan. Meskipun Agustinus berdalih bahwa keadilan Allah tidak sama dengan keadilan yang dipikirkan manusia, tampaknya tidak bisa dipertahankan. 

 Penutup

Agustinus adalah salah seorang pujangga gereja, ia juga disebut sebagai bapa Gereja. Agustinus dalam ajarannya mencoba membela ajaran gereja dari kecaman bidaah-bidaah yang lahir pada zamannya.  Perjuangannya tidaklah sia-sia hingga zaman ini pandangan-pandangannya sangat dibutuhkan untuk membangun iman gereja dan ajarannya. Bahkan tidak hanya di kalangan umat Katolik saja, melainkan dunia mengakuinya sebagai salah seorang pemikir besar yang pernah menyumbangkan gagasannya demi perkembangan ilmu pengetahuan. Demikianlah pembahasan saya mengenai hidup dan pandangan Agustinus mengenai rahmat dan predestinasi, semoga bermanfaat bagi kita semua.

  SUMBER:

Price Richard, Agustinus, Yogyakarta, Kanisius, 2000

Http:// id.wikipedia.org/wiki/ Agustinus_dari_Hippo

About these ads

~ oleh noveonline pada Desember 1, 2007.

7 Tanggapan to “St. Agustinus dari Hippo”

  1. terima kasih atas papernya. Papernya bagus dan ada catatan kakinya. sekali lagi terima kasih.

  2. thx u/ artikelnya…..
    salah satu org yg w kagumi pertobatannya adalah St. Agustinus…
    dan sampai skrg w penasaran dgn isi tulisannya “My Confession”…
    bro punya???

    GBU

  3. saya pikir dalam jaman sekarang ini kita sulit untuk menemukan pribadi seperti st. Agustinus. sebab pada umumnya manusia sekarang sudah mengikat diri dengan hal-hal duniawi.akibatnya pertobatan itu hanya sebuah ucapan manis di bibir. nanum bila kita mau sungguh belajar dari Agustinus berarti pertobatan perlu menjadi pintu untuk sungguh memberikan diri pada Tuhan

    Paulus (pas_bere@yahoo.com.ph

  4. Saya kurang setuju drm

  5. Saya sangat tertarik dengan perjalanan hidup St. Agustinus sejak dia lahir sampai meninggalnya. banyak orang yang telah jatuh tak mau bangkit lagi tapi dari cara hidup St. Agustinus ini memberi pelajaran agar orang yang jatuh dalam dosa jangan tetap tinggal di dalam dosa tersebut melainkan bangkit dan membenahi diri seperti St. Agustinus ini. “tole lege” Rom 13:13-14.

  6. setuju kalau kita jatuh harus bangun kembali

  7. gw kagum bangat sama semua pandangan Agustinus dia seorang pemikir yang sangat hebat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: